Nuansa tarif ini seperti deja vu. Mengingatkan pada kejadian serupa April lalu yang hampir mendorong S&P 500 ke wilayah bearish. Pertanyaannya sekarang, apakah kali ini cuma koreksi sesaat atau awal dari tren yang lebih panjang?
Jamie Cox, Managing Partner di Harris Financial Group, tampaknya belum terlalu khawatir.
"Saya belum sampai pada titik untuk mengatakan bahwa apa yang terjadi dengan Greenland, dan kembalinya ancaman tarif yang saling berbalas, akan memicu koreksi di pasar saham," ujarnya.
Dia mengaku akan terkejut jika penurunan pekan ini mencapai 3-5 persen. Menurutnya, justru gejolak di Jepang yang patut dicermati. Obligasi pemerintah Jepang anjlok kemarin, imbal hasilnya meroket, dan situasi politik dalam negeri ikut menggoyang pasar. Guncangan dari Tokyo itu turut mendorong biaya pinjaman di Eropa naik.
Di tengah semua keributan ini, ada satu hal yang masih jadi penopang: ekonomi AS dinilai masih kuat. Investor kini menanti serangkaian data kunci pekan ini, mulai dari pembaruan PDB, data PMI, hingga laporan inflasi PCE yang jadi favorit Fed.
Musim laporan keuangan juga mulai memanas. Netflix, misalnya, baru saja merilis kinerjanya setelah pasar tutup. Sahamnya sendiri ditutup melemah tipis kemarin, seolah menunggu kejutan apa yang akan dibawa para raksasa teknologi lainnya. Pekan ini, semua mata akan tertuju pada angka-angka itu.
Artikel Terkait
IHSG Terperosok, Rupiah Lunglai di Awal Perdagangan
Rupiah Rapuh, BI Rate Diprediksi Bertahan di 4,75 Persen
BEI Pasang Status Khusus, Waspadai Saham BULL dan ELIT yang Melonjak Tajam
Harga Minyak dan Batu Bara Naik, Nikel Jatuh Terjal di Pasar Komoditas