Trump Ancam Serang Iran Lebih Keras dan Perluas Target Penghancuran

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 19:55 WIB
Trump Ancam Serang Iran Lebih Keras dan Perluas Target Penghancuran

Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras. Lewat akun Truth Social-nya, Presiden AS itu menyatakan akan melancarkan serangan baru terhadap Iran. Dan serangan kali ini, menurutnya, bakal jauh lebih keras.

"Hari ini Iran akan diserang sangat keras!" tulis Trump dalam postingannya, seperti dilaporkan AFP, Sabtu (7/3/2026).

Ancaman itu tak berhenti di situ. Trump juga mengisyaratkan perluasan target. Wilayah dan kelompok yang sebelumnya mungkin dianggap aman, kini masuk dalam radar. Ancaman penghancuran total digaungkan, sebagai balasan atas apa yang disebutnya sebagai "perilaku buruk Iran".

"Wilayah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai target hingga saat ini sedang dipertimbangkan secara serius untuk dihancurkan sepenuhnya dan menghadapi kematian pasti," jelasnya lebih lanjut.

Pernyataan panas ini muncul di tengah ketegangan yang sudah memuncak. Sebelumnya, AS dan Israel memang telah melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran pada Sabtu pagi waktu setempat. Serangan itu diklaim bertujuan melenyapkan ancaman dari rezim Iran.

Situasi makin rumit setelah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas di kompleks kepemimpinannya pada Sabtu (28/2). Insiden itu terjadi di hari pertama serangan gabungan yang akhirnya memicu konflik lebih luas di Timur Tengah.

Di sisi lain, Iran sendiri tampaknya tak gentar. Melalui juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, mereka menyatakan kesiapan penuh untuk "perang berkepanjangan".

Naeini bahkan mengancam akan memperkenalkan persenjataan strategis baru yang belum pernah dilihat dunia. Menurutnya, serangan yang telah dilakukan Iran sejauh ini dalam Operasi "Janji Sejati 4" baru menggunakan sebagian kecil dari kemampuan sebenarnya.

"Inisiatif dan senjata baru Iran sebentar lagi," kata juru bicara tersebut.

"Teknologi ini belum dikerahkan dalam skala besar. Musuh harus bersiap untuk serangan menyakitkan di setiap gelombang operasi yang akan datang," cetusnya, seperti dilansir Press TV, Jumat (6/3/2026).

Jadi beginilah situasinya sekarang. Ancaman berbalas ancaman, peringatan saling menumpuk. Dunia seperti menahan napas, menunggu gelombang berikutnya dari kedua pihak yang sama-sama enggan mundur.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar