Wall Street benar-benar berdarah-darah kemarin. Ketiga indeks saham utama AS ambruk, mencatat penurunan harian terburuk dalam tiga bulan terakhir. Pemicunya? Kembalinya ancaman tarif dagang dari Donald Trump yang langsung mengguncang sentimen pasar.
Angkanya cukup menohok. Indeks S&P 500 anjlok 2,06 persen, sementara Nasdaq terpangkas lebih dalam lagi, 2,39 persen. Dow Jones pun tak luput, tergelincir hampir 871 poin. Ini adalah performa terkelabu sejak pertengahan Oktober lalu, dengan S&P dan Nasdaq bahkan jatuh di bawah level rata-rata pergerakan 50 harian sebuah tanda teknis yang bikin was-was.
Menurut sejumlah saksi, aksi jual yang meluas ini adalah reaksi pertama investor AS setelah libur panjang akhir pekan. Mereka baru bisa bereaksi terhadap pernyataan Trump soal rencana tarif baru untuk Eropa.
Trump mengumumkan, mulai 1 Februari nanti, barang-barang dari sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Inggris akan kena bea masuk tambahan 10 persen. Yang bikin pasar makin ciut, ancaman itu bisa melonjak jadi 25 persen di bulan Juni. Semua ini, tulisnya di Truth Social, bakal terus berlaku sampai AS bisa membeli Greenland.
Namun begitu, para pemimpin Greenland dan Denmark sudah berkali-kali menegaskan bahwa pulau itu tidak dijual.
Gara-gara isu ini, suasana "risk-off" langsung menyapu pasar. Emas, yang biasanya jadi tempat berlindung, meroket ke rekor tertinggi baru. Sebaliknya, obligasi pemerintah AS bergejolak ditekan jual. Bahkan Bitcoin, yang kerap diandalkan saat pasar tradisional goyah, ikut-ikutan melemah lebih dari 3 persen.
Volatilitas pun melonjak. Indeks VIX, termometer ketakutan Wall Street, menembus level 20 posisi tertinggi sejak akhir November. Volume perdagangan juga membengkak, menunjukkan betapa gencarnya aksi jual itu.
Artikel Terkait
IHSG Terperosok, Rupiah Lunglai di Awal Perdagangan
Rupiah Rapuh, BI Rate Diprediksi Bertahan di 4,75 Persen
BEI Pasang Status Khusus, Waspadai Saham BULL dan ELIT yang Melonjak Tajam
Harga Minyak dan Batu Bara Naik, Nikel Jatuh Terjal di Pasar Komoditas