Revisi ini naik 0,2 poin untuk 2026 dan 0,1 poin untuk 2027 dibanding proyeksi Oktober lalu. Tampaknya, revisi ini sejalan dengan perbaikan prospek ekonomi global yang juga dinaikkan IMF menjadi 3,3 persen untuk 2026.
IMF sendiri tak menjelaskan secara rinci soal Indonesia. Tapi secara global, mereka menilai ketahanan ekonomi saat ini masih ditopang oleh stimulus fiskal yang gencar dan kebijakan moneter yang akomodatif. Dua faktor itu dinilai mampu mengimbangi risiko dari konflik geopolitik dan lesunya perdagangan dunia.
Yang patut dicatat, prospek 5,1 persen itu masih tergolong cepat dibanding banyak negara. Dalam daftar 30 negara pilihan IMF, Indonesia hanya kalah dari Filipina yang diproyeksi tumbuh 5,6 persen (2026) dan 5,8 persen (2027), serta India yang konsisten di 6,4 persen.
Proyeksi Bank Dunia pun tak jauh berbeda. Mereka memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan terjaga di 5,1 persen pada 2026, sebelum naik tipis ke 5,2 persen di tahun berikutnya.
"Terjaganya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia itu menurut Bank Dunia disebabkan efek kucuran stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah sejak 2025, ditambah dengan investasi yang akan terus dimotori pemerintah," jelas Ibrahim.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tadi, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, ia memprediksi mata uang kita berpotensi melemah lagi, bergerak dalam rentang Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
Artikel Terkait
Manajemen UDNG Bantah Isu Akuisisi, Fokus Ekspansi Tambak Udang
Dua Menteri Godok Strategi Dana untuk Infrastruktur dan Penanganan Bencana
POSCO International Tawar Rp4,93 Triliun untuk Kuasai Saham Prime Agri Resources
JMA Syariah Tak Perlu Khawatir, Modal Rp127 Miliar Sudah Lampaui Batas OJK