Samia Suluhu Hassan Dilantik Kembali: Kontroversi, Penolakan Oposisi, dan Dampaknya

- Senin, 03 November 2025 | 17:54 WIB
Samia Suluhu Hassan Dilantik Kembali: Kontroversi, Penolakan Oposisi, dan Dampaknya

Samia Suluhu Hassan Dilantik Kembali sebagai Presiden Tanzania

Presiden petahan Tanzania, Samia Suluhu Hassan, telah resmi dilantik untuk masa jabatannya pada Senin (3/11). Prosesi pelantikan ini mengukuhkan kemenangannya dalam pemilu yang diwarnai kontroversi, di mana Hassan dikabarkan meraih suara hampir sempurna.

Penolakan dari Oposisi dan Kondisi Keamanan

Kemenangan Hassan ditolak keras oleh partai oposisi utama, Chadema, yang menilai pemilu penuh tipuan dan menuntut pemilihan ulang. Situasi politik memanas dengan adanya laporan korban jiwa dan pembatasan akses informasi. Partai oposisi mengklaim korban tewas mencapai 800 orang, sementara sumber diplomatik menyebutkan angka korban yang signifikan di rumah sakit.

Pemerintah Tanzania membantah penggunaan kekuatan berlebihan. Untuk meredam situasi, pemerintah memberlakukan pemadaman internet total dan lockdown di beberapa wilayah, termasuk Dar es Salaam, yang membatasi pergerakan warga dan menutup sekolah serta tempat ibadah.

Dukungan Internasional dan Stabilitas Negara

Meski diwarnai ketegangan domestik, Hassan tetap mendapat ucapan selamat dari sejumlah pemimpin negara tetangga, seperti Presiden Kenya William Ruto dan pemimpin Republik Demokratik Kongo Felix Tshisekedi. Mereka mendorong rakyat Tanzania untuk menjaga perdamaian dan menghormati supremasi hukum.

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, pasukan keamanan terus berpatroli, terutama di Zanzibar yang relatif lebih tenang. Pelantikan Hassan disiarkan langsung oleh televisi pemerintah dan dihadiri oleh pejabat tinggi serta diplomat asing, meski tanpa kehadiran publik.

Latar Belakang Politik Samia Suluhu Hassan

Samia Suluhu Hassan pertama kali menjabat sebagai presiden pada tahun 2021 menggantikan John Magufuli yang meninggal dunia. Kemenangan mutlak dalam pemilu ini dinilai sebagai upayanya untuk memperkuat posisi politik dengan membungkam kritik dan membatasi ruang gerak oposisi.

Meski komisi pemilu melaporkan tingkat partisipasi pemilih mencapai 87%, jurnalis dan pemantau independen melaporkan suasana sepi di tempat pemungutan suara sebelum demonstrasi pecah. Kondisi ini menyisakan tanda tanya besar mengenai transparansi dan keadilan proses demokrasi di Tanzania.

Komentar