Pada hari Senin (19/1) lalu, sebuah perjanjian penting akhirnya ditandatangani. Menteri Koordinator Inggris untuk Bisnis dan Perdagangan, Peter Kyle, dan Menko Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, menyepakati apa yang disebut Economic Growth Partnership atau Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi. Intinya, kerja sama perdagangan kedua negara bakal ditingkatkan.
Menurut Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, ini bukan sekadar perjanjian biasa. Kemitraan ini adalah bagian dari sebuah hubungan strategis yang lebih dalam dan baru antara Indonesia dan Inggris. Rencananya, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan meluncurkannya secara resmi pekan ini.
Jermey menjelaskan, lewat kemitraan ini, kedua negara akan berusaha mengatasi hambatan non-tarif yang kerap merepotkan. Mereka juga akan mendukung para eksportir dan mendorong investasi dua arah yang lebih besar. Tujuannya jelas: membuka peluang baru bagi dunia usaha dan tentu saja menguntungkan perekonomian kedua belah pihak.
Semua ini, katanya, bukan datang tiba-tiba. Ada momentum yang sudah dibangun. Ingat saja, tahun lalu Indonesia dan Inggris sudah meneken kesepakatan maritim senilai £4 miliar yang dipimpin perusahaan Inggris, Babcock. Jadi, langkah sekarang seperti melanjutkan apa yang sudah dimulai.
Lebih lanjut, Jermey membeberkan bahwa Prabowo dan Starmer berkomitmen meluncurkan Kemitraan Strategis dengan empat pilar utama. Pilar-pilar itu mencakup pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi yang jadi prioritas kedua pemimpin lalu masyarakat dan sosial, serta yang terakhir adalah iklim, energi, dan alam.
Artikel Terkait
Wall Street Anjlok Diterjang Data Buruk dan Ancaman Perang di Timur Tengah
Pemerintah Siapkan Bansos dan Diskon Transportasi untuk Jaga Daya Beli Jelang Lebaran 2026
Danantara Tunjuk Dua Perusahaan China Kelola Proyek Sampah Jadi Listrik di Bekasi dan Denpasar
Kobexindo Buka Cabang di Manado untuk Dongkrak Pasar Alat Berat Indonesia Timur