Matcha di Sekretariat ASEAN: Dari Upacara Teh hingga Jembatan Kerja Sama

- Kamis, 11 Desember 2025 | 10:24 WIB
Matcha di Sekretariat ASEAN: Dari Upacara Teh hingga Jembatan Kerja Sama

Suasana di Sekretariat ASEAN, Selasa lalu, terasa berbeda. Ada aroma khas yang menggugah selera. Misi Jepang untuk ASEAN tengah menggelar acara "Experience Japanese Food Culture", dan bintang utamanya tak lain adalah matcha, teh hijau bubuk halus yang jadi ikon negeri sakura itu.

Duta Besar Jepang untuk ASEAN, Yonetani Koji, hadir langsung. Ia berharap acara ini bukan sekadar perkenalan budaya biasa. Menurutnya, matcha punya potensi lebih besar.

"Jadi matcha itu sebenarnya produk yang sangat spesial dan limited dari Jepang. Sebenarnya bukan hanya matcha, banyak produk-produk lain dari Jepang dan ASEAN tentunya saya yakin punya produk spesial dan khusus," kata Yonetani, Kamis (11/12).

"Jadi kami berharap dengan acara ini ada saling pengertian mengenai kelebihan produk negara masing-masing."

Harapannya, matcha bisa merambah ke sektor-sektor yang mendukung ekonomi dan pariwisata di kawasan ASEAN. Namun begitu, ada tantangan menarik yang diungkapkannya. Tren matcha ke depan? Yonetani mengaku tak bisa memprediksi.

"Sangat sulit dijawab secara pasti dan sangat sulit diprediksi. Sebenarnya Jepang sendiri sedang mengalami kekurangan produk matcha, jadi sedang berusaha menambah produsen matcha," ungkapnya.

Di sisi lain, justru kondisi itu membuka peluang. Jepang, katanya, juga ingin mengenal produk-produk unggulan dari negara-negara ASEAN. Semacam jembatan dua arah.

Soal cara menikmatinya, matcha ternyata sangat fleksibel. Yonetani menyebut matcha tak lagi eksklusif dinikmati dengan cara kuno. Kini, matcha latte, kue, hingga cokelat rasa matcha sudah merebak di mana-mana, tak cuma di Jakarta tapi juga di berbagai belahan dunia. Popularitasnya seiring dengan menjamurnya restoran Jepang.

"Kita dapat menikmati matcha tak hanya dengan cara tradisional, tapi juga dengan cara modern yang inovatif seperti matcha latte, kue matcha, atau cokelat matcha. Popularitas (matcha) mungkin mengikuti popularitas makanan Jepang yang semakin populer," jelasnya.

Namun, akar budayanya tetap dalam. Cara tradisional menikmati matcha adalah melalui Sado atau Chado, upacara minum teh yang sarat filosofi.

"Sado mewakili semangat menghormati sesama dengan membagikan momen damai di ruangan yang sama antara semua yang berpartisipasi dalam upacara minum teh," ujar Yonetani.

Ia lalu bercerita, "Ketika para panglima perang memasuki ruangan untuk upacara minum teh, mereka menempatkan pedang di luar pintu masuk."

Ritual itu, baginya, punya resonansi yang kuat dengan kondisi saat ini. Semangat damai dan penghormatan dalam Sado sejalan dengan visi yang dipegang ASEAN dan para mitranya.

"Saya yakin bahwa semangat Sado, Jalan Teh, memiliki kesamaan visi yang kita bagi di antara ASEAN dan para mitranya, yaitu keinginan untuk berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran di kawasan ini dan sekitarnya," pungkasnya.

Acara itu pun berakhir. Tapi pesannya jelas: dari secangkir matcha, bisa lahir dialog budaya dan bahkan kerja sama yang lebih erat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar