Malam pergantian tahun di Yogyakarta benar-benar luar biasa ramainya. Menurut Fitria Dyah Anggraeni, Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, kerumunan manusia membanjiri kawasan ikonis kota itu. Dari Tugu Jogja, sepanjang Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer, semuanya dipenuhi orang. Jumlahnya? Bisa mendekati setengah juta.
"Jadi mungkin ya kita bisa sampai, sampai mungkin ya mendekati 500 ribu bisa sih," ujar Anggraeni, Kamis (1/1).
"Dari Tugu sampai ke Malioboro itu soalnya penuh semua sih gitu," tambahnya.
Yang menarik, meski dipadati ratusan ribu pengunjung, persoalan sampah ternyata bisa ditangani dengan cukup baik. Anggi sapaan akrabnya mengaku ada keanehan dalam data sampah tahun ini. Volumenya tidak melonjak signifikan. Malah, ada penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Tapi memang kenaikan sampah sendiri agak anomali karena ternyata kenaikannya enggak signifikan. Justru kayak terjadi penurunan dari tahun lalu," katanya.
Petugas kebersihan langsung bergerak cepat setelah perayaan usai. Sekitar pukul setengah satu dini hari, truk-truk pengangkut sampah sudah beraksi. Mereka menyisir rute dari Tugu, Malioboro, hingga Titik Nol sebanyak tiga kali putaran. Hasilnya? Sampah yang terkumpul tidak sampai delapan ton.
"Volume sampahnya itu, saya lupa disebutkan, tapi dia tidak sampai 8 ton, itu nggak," jelas Anggraeni.
Meski begitu, satu jenis sampah masih mendominasi: tikar plastik bekas. Penjualannya memang sudah coba dilarang sejak sore hari, namun praktiknya masih terjadi. Tikar plastik itu mudah "diselundupkan" dan tidak selalu terlihat sebagai barang dagangan.
"Meski di awal waktu di jam-jam 7 (malam) itu kita sudah coba tertibkan, tapi kan penjual, dan kita, kita apa ya, kita amankan untuk tidak apa menjual. Tapi kan memang alas duduk itu kan bisa dengan mudah diselundupkan ya dalam tanda kutip. Jadi tidak yang, tidak yang terlihat dia sebagai barang jualan," ucapnya.
Upaya lain pun dilakukan. Petugas mengimbau lewat radio dan secara langsung agar pengunjung tidak membeli alas plastik. Sayangnya, imbauan itu tak sepenuhnya dipatuhi.
"Kita imbau lewat radio, lewat petugas, tapi tetap, tetap mereka (membeli). Ya nggak masalah deh, maksudnya tapi kemudian kita imbau juga pada saat alas plastik itu bisa kemudian mereka bawa pulang seperti itu. Dan kemarin juga tetap ada tapi tidak yang kemudian masif menumpuk secara sembarangan seperti itu," paparnya.
Hujan Bikin Ramai Sepi
Suasana ramai itu tak berlangsung lama. Di hari pertama tahun 2026, tepatnya siang hari sekitar pukul 14.30, keramaian sempat meningkat. Namun, hujan yang turun kemudian membuat suasana berubah. Pengunjung pun mulai berkurang drastis.
"Mungkin ya, ya ini salah satu faktor untuk kemudian pengunjung menjadi mungkin membatalkan niatnya untuk jalan-jalan di Malioboro," tutur Anggi.
Secara keseluruhan, liburan Nataru kali ini tetap menyedot minat luar biasa. Sejak liburan dimulai, total pengunjung yang memadati Malioboro diperkirakan sudah mencapai angka fantastis.
"Kalau kami (hitung) masih sampai di kisaran 1,5 juta, 1,4 juta," pungkasnya menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Mantan Kapolres Bima Kota Tersangka Narkoba Belum Ditahan, Tunggu Proses Propam
Bali United Tumbang Lagi, Kekalahan Ketiga Beruntun Usai Ditaklukkan Persija
Eks Kapolres Bima Kota Tersangka Narkoba Belum Ditahan, Tunggu Sidang Kode Etik
IHSG Terkoreksi, Analis Masih Lihat Peluang Rally ke Level 8.440