Mahfud MD: Penguasa yang Tak Mau Dengar Pikiran Sehat Akan Celaka Sendiri

- Senin, 15 Juni 2026 | 19:00 WIB
Mahfud MD: Penguasa yang Tak Mau Dengar Pikiran Sehat Akan Celaka Sendiri

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, memilih untuk menyuarakan pemikiran-pemikiran sehatnya melalui platform digital, termasuk kanal YouTube, sebagai bentuk ikhtiar untuk tetap berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Ia menjelaskan bahwa langkah ini diambil dengan harapan agar gagasan-gagasan konstruktif yang dimilikinya masih dapat didengar oleh para pemangku kekuasaan. “Karena kalau sudah tidak mau mendengar, nanti biasanya itu kepenthuk sendiri. Tidak mau mendengar pikiran-pikiran sehat, selalu dianggap musuh, dianggap antek asing,” ujar Mahfud dalam acara GoodTalk di YouTube Good News From Indonesia pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Menurut Mahfud, keengganan penguasa untuk menerima masukan justru akan menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Ia mencontohkan bagaimana tuduhan sebagai “antek asing” kerap dialamatkan kepada pihak-pihak yang kritis. Padahal, ia mengingatkan bahwa pemerintah sendirilah yang selama ini menjalin kerja sama dengan pihak asing, seperti meminjam dana atau menarik investor. “Kalau misalnya pemerintah sudah jelas pinjam uang ke orang asing, investornya orang asing, terus siapa yang antek-antek asing?” ujarnya mempertanyakan.

Di sisi lain, Mahfud juga menyinggung hasil survei optimisme yang dilakukan oleh Good News From Indonesia sejak 2018. Survei tersebut menunjukkan bahwa selama enam tahun terakhir, sektor politik dan hukum secara konsisten memperoleh skor terendah atau paling pesimistis di kalangan responden muda. Kondisi ini, menurutnya, turut memengaruhi harapan generasi muda terhadap masa depan Indonesia di bidang politik dan hukum. “Secara umum, banyak masyarakat memang pesimis dan menganggap hukum dan politik mengalami regresi yang terpuruk,” katanya.

Meskipun demikian, Mahfud menegaskan bahwa harapan tidak pernah sepenuhnya sirna. Ia merujuk pada fakta bahwa Indonesia adalah negara hukum dan negara demokrasi konstitusional. “Demokrasi dan konstitusi itu selalu membuka peluang bagi terjadi sirkulasi kekuasaan. Tidak mungkin ada kekuasaan yang abadi,” jelasnya. Dalam kondisi normal, kekuasaan akan berganti setiap pemilu, sementara dalam situasi tidak normal, pergantian bisa terjadi di tengah jalan, seperti yang sudah beberapa kali terjadi di Indonesia.

Oleh karena itu, Mahfud mendorong masyarakat untuk tidak berhenti mencari pintu-pintu potensial yang masih terbuka guna menyuarakan aspirasi dan pemikiran sehat. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki konstitusi sebagai pedoman hidup dan merupakan negara demokrasi yang selalu membuka ruang bagi sirkulasi kekuasaan. “Kritik kan sekarang bebas. Bebas mengeritik pemerintah, pemerintah sendiri bebas membentuk buzzer untuk melawan pengkritik. Iya, tidak apa-apa kalau itu semuanya ingin menyatakan dirinya benar, menyatakan bahwa Indonesia yang benar begini,” pungkas Mahfud.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini