Prabowo dan Starmer Sepakati Kemitraan Ekonomi Baru, Bahas Kampus Inggris hingga Konservasi Gajah

- Selasa, 20 Januari 2026 | 13:48 WIB
Prabowo dan Starmer Sepakati Kemitraan Ekonomi Baru, Bahas Kampus Inggris hingga Konservasi Gajah

Pada hari Senin (19/1) lalu, sebuah perjanjian penting akhirnya ditandatangani. Menteri Koordinator Inggris untuk Bisnis dan Perdagangan, Peter Kyle, dan Menko Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, menyepakati apa yang disebut Economic Growth Partnership atau Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi. Intinya, kerja sama perdagangan kedua negara bakal ditingkatkan.

Menurut Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, ini bukan sekadar perjanjian biasa. Kemitraan ini adalah bagian dari sebuah hubungan strategis yang lebih dalam dan baru antara Indonesia dan Inggris. Rencananya, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan meluncurkannya secara resmi pekan ini.

"Kami telah sepakat untuk meningkatkan kerja sama perdagangan kami di berbagai sektor prioritas, seperti energi bersih, ekonomi digital, infrastruktur, transportasi, pendidikan, dan kesehatan," kata Jermey dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/1).

Jermey menjelaskan, lewat kemitraan ini, kedua negara akan berusaha mengatasi hambatan non-tarif yang kerap merepotkan. Mereka juga akan mendukung para eksportir dan mendorong investasi dua arah yang lebih besar. Tujuannya jelas: membuka peluang baru bagi dunia usaha dan tentu saja menguntungkan perekonomian kedua belah pihak.

Semua ini, katanya, bukan datang tiba-tiba. Ada momentum yang sudah dibangun. Ingat saja, tahun lalu Indonesia dan Inggris sudah meneken kesepakatan maritim senilai £4 miliar yang dipimpin perusahaan Inggris, Babcock. Jadi, langkah sekarang seperti melanjutkan apa yang sudah dimulai.

"Jadi sekarang kita berupaya menciptakan peluang baru bagi bisnis dan memberikan manfaat bagi kedua ekonomi kita. Diplomasi, kolaborasi, dan prestasi," jelas Jermey.

Lebih lanjut, Jermey membeberkan bahwa Prabowo dan Starmer berkomitmen meluncurkan Kemitraan Strategis dengan empat pilar utama. Pilar-pilar itu mencakup pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi yang jadi prioritas kedua pemimpin lalu masyarakat dan sosial, serta yang terakhir adalah iklim, energi, dan alam.

Di sisi lain, Inggris punya alasan kuat memandang Indonesia sebagai mitra penting. Saat ini, Indonesia adalah ekonomi terbesar ke-16 di dunia, sementara Inggris di posisi keenam. Namun begitu, fakta menariknya, Indonesia cuma jadi pasar ekspor terbesar ke-54 bagi Inggris. Jaraknya cukup jauh.

"Itulah mengapa kami mengadakan acara bisnis tingkat tinggi yang dihadiri oleh Presiden, dan mengapa Presiden dan Perdana Menteri akan meluncurkan kemitraan pertumbuhan ekonomi antara kedua negara kita," ungkap Jermey.

Kunjungan Prabowo ke Inggris rupanya bakal cukup padat. Selain bertemu PM Starmer, dia juga dijadwalkan menemui Raja Charles III. Agenda lain yang tak kalah menarik adalah pertemuan dengan para wakil rektor universitas-universitas terkemuka Inggris yang tergabung dalam Russell Group. Isunya? Potensi pembukaan kampus Russell Group di Indonesia.

Tak cuma itu. Prabowo juga akan bertemu dengan pelaku bisnis Inggris, berbagai organisasi, serta investor Indonesia yang melihat Inggris sebagai pasar potensial. Ada juga acara konservasi yang membahas upaya pemulihan mata pencaharian masyarakat di Aceh, sekaligus mendukung inisiatif konservasi gajah.

"Presiden juga akan berdiskusi dengan lembaga filantropi mengenai pembiayaan jangka menengah dan panjang untuk inisiatif-inisiatif tersebut serta untuk taman nasional Indonesia yang indah dan kaya keanekaragaman hayati secara berkelanjutan," ungkap Jermey.

Agendanya memang penuh. Tapi dari serangkaian pertemuan itu, terlihat jelas ada niat untuk membangun kerja sama yang tidak hanya di atas kertas, tetapi juga menyentuh banyak aspek. Dari ekonomi digital sampai pelestarian gajah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar