Wakapolri Resmikan 17 Jembatan untuk Perkuat Konektivitas di Kolaka

- Selasa, 21 April 2026 | 16:25 WIB
Wakapolri Resmikan 17 Jembatan untuk Perkuat Konektivitas di Kolaka

Di Desa Sabilambo dan Desa Silui, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, suasana hari Selasa (21/4/2026) terasa berbeda. Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo hadir bukan untuk urusan operasi, melainkan untuk meresmikan 17 jembatan. Lima belas di antaranya jembatan perintis, ditambah dua jembatan utama yang cukup besar. Acara sederhana ini punya makna besar bagi warga sekitar.

“Pembangunan ini adalah wujud nyata kehadiran negara melalui Polri di tengah masyarakat,” ujar Komjen Dedi di tepi salah satu jembatan.

Suaranya lantang menembus gemericik air di bawahnya. “Kita ingin memastikan bahwa akses masyarakat tidak lagi terhambat, sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah.”

Menurutnya, kehadiran negara harus dirasakan langsung, terutama dalam hal mobilitas sehari-hari. Ia lalu mengarahkan pandangannya pada kondisi geografis Indonesia yang menurutnya penuh tantangan. Di situlah arahan Presiden Prabowo ia kutip.

“Presiden Prabowo menekankan bahwa Indonesia memiliki karakter geografis yang penuh potensi sekaligus risiko bencana. Oleh karena itu, kita harus membangun infrastruktur yang tangguh dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah,” jelasnya.

Dengan dasar itulah, Polri mendata titik-titik kritis yang menghubungkan satu area dengan area lain. Hasilnya, jembatan-jembatan yang kini berdiri.

Dua jembatan utamanya punya nama khusus: Dhira Brata. Nama itu diambil dari paguyuban alumni Akpol 1990, tempat Komjen Dedi bernaung. Sebuah penanda yang personal, namun fungsinya sangat publik.

Dampaknya cukup signifikan. Jembatan-jembatan ini diproyeksikan bakal melayani lebih dari 1.200 Kepala Keluarga. Mereka tak lagi terisolasi. Bahkan, lebih dari 9 desa di Kolaka dan Kolaka Timur kini terhubung lebih baik.

Proses pembangunannya sendiri unik. Meski desain dan pengawasannya ditangani tenaga profesional untuk jaminan keamanan, pengerjaannya dilakukan secara gotong royong antara personel Polri dan masyarakat. Ada rasa memiliki yang dibangun bersama, bukan sekadar proyek seremonial belaka.

Jadi, ini bukan cuma soal beton dan besi. Ini soal akses, ekonomi, dan yang paling utama: kehadiran.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar