Dari Penolakan Tambang hingga Pasar Global: Kisah Madu Pelawan yang Mengubah Nasib Desa

- Senin, 19 Januari 2026 | 15:48 WIB
Dari Penolakan Tambang hingga Pasar Global: Kisah Madu Pelawan yang Mengubah Nasib Desa

Upayanya membuahkan hasil. Berkat LPEI, Madu Hutan Pelawan mendapat tiket untuk tampil di Trade Expo Indonesia 2025, sebuah pintu penting untuk bertemu calon pembeli dari luar negeri. Nilai ekonominya pun terus meroket. Madu grade A bisa mencapai Rp1,5 juta per kilogram, grade B sekitar Rp750 ribu. Kini, ada 125 petani dan pencari madu di desanya yang terlibat.

Produksinya fluktuatif, namun signifikan. Biasanya mereka menghasilkan sekitar 200 botol per bulan. Tapi pada momen-momen tertentu seperti hari libur atau kunjungan pejabat bisa melonjak hingga 600 botol. Secara finansial, ini mengubah hidup. Setiap petani bisa menghasilkan 60 hingga 90 botol, dengan pendapatan bulanan rata-rata Rp5–6 juta.

Semua ini selaras dengan komitmen ESG dan tujuan SDGs yang diusung banyak pihak, termasuk LPEI. Prinsipnya menyentuh banyak aspek: pengentasan kemiskinan, pertanian berkelanjutan, hingga penanganan perubahan iklim. Pada 2024, pencapaiannya semakin diakui dengan diraihnya sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM. Sertifikasi ini sekaligus menjadi tameng dari pemalsuan.

Zaiwan menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dukungan yang diberikan.

“Kesempatan yang diberikan LPEI menjadi momentum besar bagi kami untuk memperkenalkan Madu Hutan Pelawan ke pasar global dan membuktikan bahwa produk desa juga mampu bersaing di tingkat dunia,” ujarnya.

Kini, hasilnya nyata. Madu Pelawan tak hanya jadi buah tangan favorit wisatawan asing yang berkunjung, tetapi sudah menyeberang ke berbagai negara. Bahkan produk turunannya, teh daun Pelawan, berhasil masuk pasar Jepang. Cerita dari Desa Namang ini menjadi bukti sederhana namun kuat: melestarikan alam dan mensejahterakan masyarakat bukanlah mimpi yang mustahil. Keduanya bisa diraih, dengan keteguhan dan pilihan yang tepat.


Halaman:

Komentar