Percakapan saya dengan seorang pegiat lingkungan di Malang belum lama ini, masih terngiang. "Orang bisa setuju soal konservasi," katanya, "tapi tetap harus makan."
Kalimat sederhana itu, bagi saya, menyentuh inti persoalan. Seringkali, upaya menjaga alam berbenturan langsung dengan urusan perut. Dengan kebutuhan paling mendasar: agar dapur tetap mengepul.
Realitas Pesisir Selatan yang Tak Sederhana
Pesisir selatan Malang itu indah dan kaya. Terumbu karangnya memesona, biota lautnya beragam. Tapi di balik pesona itu, tekanannya nyata. Ekosistemnya terus terancam.
Penangkapan ikan yang merusak masih terjadi. Perdagangan karang hias juga. Eksploitasi ruang pesisir berjalan. Kenapa? Pilihan ekonomi bagi banyak warga di sana terbatas. Jadi, konservasi di sini bukan soal hitam atau putih. Ini lebih mirip negosiasi tanpa akhir antara bertahan hidup dan menjaga warisan alam.
Kerusakan itu punya konteks. Banyak keluarga hidup dari laut dengan cara turun-temurun. Namun, tekanan ekonomi, perubahan pasar, dan teknologi membuat cara-cara lama itu kian berisiko bagi lingkungan. Saat sumber daya menipis, pilihannya menyempit. Terus merusak atau mencoba hal baru yang belum pasti hasilnya.
Upaya SALAM di Tengah Dilema
Di sinilah organisasi seperti Sahabat Alam Indonesia (SALAM) mencoba masuk. Mereka tak cuma edukasi. Mereka dampingi komunitas, buka diskusi soal alternatif penghidupan.
Pendekatannya jelas: larangan saja tak cukup. Harus ada jalan lain untuk cari nafkah.
Tapi jalan itu tak mulus. Bagi sebagian warga, pesan konservasi terdengar abstrak. Larangan menangkap ikan tertentu atau mengambil karang, misalnya, langsung terasa di kantong. Akibatnya, gampang sekali konservasi dianggap sebagai agenda "orang luar" entah itu NGO, pemerintah, atau akademisi yang dianggap kurang paham realitas warga pesisir.
Artikel Terkait
Fujifilm Luncurkan Instax Mini Evo Cinema, Cetak Foto dari Bingkai Video
Racun Digital Menyelinap di Balik Layar Ponsel: Perlukah Kita Pasang Bodyguard untuk Gawai?
Kolaborasi AI dan Budaya: Indonesia-China Garap Lahan Baru di Industri Kreatif
Deepfake hingga Voice Copy: Ancaman Siber Kini Ada di Sisi Anda