Pertumbuhan ekonomi China di tahun 2025 akhirnya menyentuh angka 5 persen. Target itu tercapai, meski jalan yang ditempuh tak mulus perang tarif dengan Amerika Serikat terus menghantam.
Data resmi dari Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis Senin (19/1) mengonfirmasi capaian ini. Menurut Bloomberg, negeri Tirai Bambu itu bertahan dengan cara menggenjot ekspor ke negara-negara di luar AS.
Dalam keterangan tertulisnya, NBS mengakui bahwa perekonomian memang berhasil bertahan di tengah tekanan.
“Kami mencatat kemajuan yang stabil sepanjang 2025,” tulis NBS.
“Tapi dampak dari luar semakin kuat. Ketimpangan antara pasokan domestik yang kuat dan permintaan yang lemah kian nyata. Masalah lama belum selesai, tantangan baru sudah menunggu.”
Di sisi lain, gambaran pertumbuhan itu tidak sepenuhnya merata. Ada sisi yang terang, ada pula yang suram. Produksi industri, misalnya, menunjukkan performa cukup bagus dengan kenaikan 5,2 persen pada Desember angka tercepat dalam tiga bulan.
Namun begitu, sisi konsumsi dan investasi justru melemah. Penjualan ritel hanya naik 0,9 persen di bulan yang sama, jadi yang terlemah sejak ekonomi dibuka kembali pasca-pandemi. Lebih parah lagi, investasi aset tetap menyusut 3,8 persen sepanjang 2025 penurunan tahunan pertama dalam tiga dekade. Sektor properti pun ikut terpuruk, anjlok 17,2 persen.
Tingkat pengangguran perkotaan setidaknya stagnan di angka 5,1 persen, tak berubah dari November.
Target pertumbuhan sekitar 5 persen memang dipertahankan China selama tiga tahun berturut-turut. Tapi menurut sejumlah analis, tahun depan mungkin berbeda. Bank-bank global seperti Goldman Sachs dan Standard Chartered memperkirakan pemerintah China bakal menurunkan targetnya jadi antara 4,5 hingga 5 persen untuk tahun 2026.
Ini bukan tanpa alasan. Pemerintah kini punya pekerjaan rumah yang serius: mewujudkan ambisi menjadi negara berpendapatan menengah pada 2035. Untuk mencapainya, ekonomi harus tumbuh rata-rata 4,17 persen per tahun dalam sepuluh tahun ke depan. Bukan tugas mudah.
Kuartal pertama 2026 berpotensi jadi periode yang berat. Sebab, tahun sebelumnya tumbuh cepat karena dorongan ekspor dan subsidi konsumen. Momentum itu belum tentu bertahan.
Artikel Terkait
Harga Tembaga Tertekan Imbas Ketegangan AS-Iran dan Ketidakpastian The Fed
PT Mulia Boga Raya (KEJU) Bagikan Dividen Rp89,88 Miliar, Setara 50% Laba Bersih
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 Jadi Rp2,88 Juta per Gram
IHSG Terperosok 0,92% di Awal Sesi, Mayoritas Sektor Tertekan