“Komitmen kami adalah pemulihan jaringan permanen secepat mungkin. Tapi keselamatan petugas dan kemampuan akses alat berat sangat bergantung pada kondisi jalan. Kami terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan Pemda untuk membuka akses,” ujar Eddi.
“Sambil berjalan, kami pastikan warga di 68 desa itu tetap teraliri listrik lewat backup genset yang sudah disiagakan bersama Kementerian ESDM.”
Tim kini berfokus pada wilayah-wilayah terisolir. Konsentrasi terbesar di Aceh Tengah dengan 36 desa, lalu Bener Meriah 13 desa, disusul Gayo Lues dan Aceh Tamiang.
“Petugas kami di lapangan terus bersiaga di titik terdekat dengan lokasi longsor. Begitu akses memungkinkan untuk dilewati, tim teknis kami akan langsung masuk untuk melakukan perbaikan tiang dan kabel yang roboh akibat bencana,” jelas Eddi.
Apresiasi datang dari Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, yang turun langsung mengawasi proses pemulihan di daerahnya.
“Kami melihat perjuangan luar biasa dari petugas PLN yang harus menerjang titik-titik longsor demi bisa masuk membawa material. Kami juga sangat terbantu dengan adanya backup 1.000 genset Kementerian ESDM, sehingga desa-desa kami tetap terang sementara perbaikan jaringan permanen terus diupayakan,” ungkap Haili Yoga.
Perlu diingat, fondasi dari semua upaya ini sudah diletakkan sejak pertengahan Desember lalu. Saat itu, sistem kelistrikan utama Aceh termasuk gardu induk, pembangkit, dan jaringan transmisi telah berhasil dinormalkan. Pencapaian itulah yang memungkinkan pemulihan hingga ke pelosok desa seperti sekarang.
Artikel Terkait
IMF Ramal 2026: Asia Melaju, Ekonomi Maju Terseok-seok
Stok Beras Aceh Melimpah, BULOG Pastikan Ramadan dan Lebaran Aman
Libur Panjang Januari Tak Berdampak Signifikan pada Hunian Hotel
Purbaya Tegaskan Dana Transfer ke Daerah untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar Tak Dipotong