Proyek Kereta Api Baru Bukit Asam Jadi Penopang di Tengah Harga Batu Bara yang Melandai

- Minggu, 18 Januari 2026 | 13:50 WIB
Proyek Kereta Api Baru Bukit Asam Jadi Penopang di Tengah Harga Batu Bara yang Melandai

Harga batu bara global memang sedang normalisasi. Tapi, jangan salah, fundamental PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai tetap solid dan berkelanjutan. Analis dari Phintraco Sekuritas, Kamis lalu, justru melihat peluang di balik situasi ini.

Katalis utamanya? Proyek infrastruktur logistik yang sedang digarap perseroan. Menurut mereka, inilah yang bakal mendongkrak efisiensi biaya dan menguatkan kinerja PTBA untuk jangka menengah ke depan.

Sebagai raksasa batu bara di Indonesia, PTBA menguasai Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas lebih dari 65 ribu hektare di Sumatera Selatan. Produksinya mencakup batu bara termal peringkat rendah hingga menengah, dari lignit sampai sub-bituminous. Nilai kalornya beragam, antara 2.800 sampai 6.100 kcal/kg GAR, dengan keunggulan kandungan abu dan sulfur yang relatif rendah. Produk-produk ini mayoritas diserap oleh PLTU dan pelanggan industri.

Namun begitu, bisnis PTBA tak cuma menggali di dalam tanah. Mereka punya lini usaha terintegrasi yang cukup lengkap. Mulai dari logistik kereta api dan truk, pengelolaan pelabuhan, fasilitas penanganan batu bara, hingga pembangkit listrik baik berbasis uap (PLTU) maupun tenaga surya (PLTS) yang tersebar di berbagai daerah.

Yang paling disorot Phintraco adalah proyek jalur kereta api Tanjung Enim-Keramasan. Proyek sepanjang 158 kilometer ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II-2026. Per September tahun lalu, progres konstruksinya sudah mencapai 58 persen. Bayangkan, jalur baru ini nantinya bisa mengangkut hingga 20 juta ton per tahun.

Tak berhenti di situ, PTBA juga melakukan peningkatan kapasitas pelabuhan pendukung. Kapasitas Pelabuhan Tarahan dinaikkan sedikit dari 27,5 juta ton menjadi 28,0 juta ton per tahun. Sementara Pelabuhan Kertapati naik dari 8,0 juta ton menjadi 8,5 juta ton per tahun. Semua ini dijalankan lewat kolaborasi dengan PT KAI dan PT KALOG.

Integrasi ini jelas punya dampak besar. Jarak angkut yang lebih pendek dan waktu pengiriman yang lebih optimal akan memangkas biaya transportasi secara signifikan. Alhasil, biaya logistik per ton berpotensi turun dan struktur biaya perusahaan jadi lebih kompetitif. Itulah yang diharapkan bisa menjaga ketahanan PTBA dalam jangka panjang.


Halaman:

Komentar