Kolombo dilanda berita duka. Dari kantor-kantor pemerintah hingga pelabuhan di Galle, suasana tegang menyelimuti setelah sebuah kapal perang Iran, Iris Dena, tenggelam di perairan selatan negara ini. Wakil Menteri Luar Negeri Arun Hemachandra dengan suara berat menyebut angka korban tewas sementara: setidaknya 80 orang.
Menurut Menteri Luar Negeri Vijitha Herath, kapal itu membawa 180 orang saat mengirimkan panggilan darurat yang memilukan. Itu terjadi sekitar subuh, 25 mil di selatan pelabuhan Galle. Seketika, misi pencarian dan penyelamatan besar-besaran diluncurkan oleh otoritas Sri Lanka.
“Upaya penyelamatan terus berlanjut,” ujar juru bicara angkatan laut, Buddhika Sampath.
“Fokus utama operasi adalah untuk membantu para korban selamat,” tambahnya.
Kapal Iran itu bukanlah kapal sembarangan. Ia baru saja berpartisipasi dalam latihan angkatan laut ‘Milan’ yang digelar India di Teluk Bengal, dari 18 hingga 25 Februari. Setelah singgah di sebuah pelabuhan India timur, Iris Dena sedang dalam pelayaran pulang menuju Iran ketika nasib buruk menimpa.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di laut lepas itu? Sebuah narasi gelap mulai mengemuka. Seorang pejabat senior Sri Lanka yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, Kedutaan Iran di Kolombo telah menyampaikan pesan melalui jalur belakang. Intinya: mereka yakin kapal mereka menjadi sasaran serangan Amerika Serikat.
Klaim Iran lebih spesifik lagi. Mereka meyakini kemampuan pertahanan dan serangan balik kapal mereka telah dinonaktifkan secara elektromagnetik sebelum serangan dilancarkan. Meski begitu, pemerintah Iran sendiri masih menahan diri untuk memberikan pernyataan resmi.
Artikel Terkait
Keluarga di Jombang Diculik dan Disekap ke Bangkalan Gara-Gara Utang Rp 25 Juta
Arsenal Kukuhkan Puncak Klasemen Usai Taklukkan Brighton 1-0
Indonesia Ekspor Perdana Beras Premium untuk Jamaah Haji di Arab Saudi
Manchester City Tertahan Imbang Nottingham Forest, Jarak ke Arsenal Tetap 7 Poin