“Kita memang yang mendorong, tapi di situ kepemilikan kita hanya paling 30 persen,” jelasnya. “Jadi yang investor luar ada yang masuk, tapi di situ pun kita kasih tahu wajib mesti mengajak juga investor dalam negeri juga, di luar Danantara.”
Lalu, Kenapa Investasi Asing Melandai?
Pertanyaan ini pasti mengemuka. Rosan sendiri mengakuinya. Menurut dia, ada beberapa faktor penyebab, dan sebagian besar berasal dari luar kendali kita. Ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang memanas di berbagai belahan dunia jadi penyumbang utama.
“Kita lihat bersama memang faktor geopolitik, geokonomi, faktor economic tension yang masih ada itu juga tentunya mempengaruhi,” ujar Rosan.
Dia menyebut contoh konkret seperti ketegangan antara Venezuela dan AS. Hal-hal semacam itu, menurutnya, sulit dicegah atau diperbaiki oleh pemerintah Indonesia. Yang bisa dilakukan adalah fokus memperbaiki iklim investasi di dalam negeri.
“Dalam kontrol kita itu yang coba kita selalu perbaiki,” paparnya. “Terutama dari segi regulasi dan kebijakan supaya menjadi environment friendly untuk investasi.”
Strateginya adalah diversifikasi. Dengan menyebar sumber investasi, dampak dari masalah internal satu negara tertentu bisa diredam. Rosan merasa langkah ini sudah berjalan cukup baik.
“Negara-negara yang masuk ke kita komitmennya juga masih terus tinggi,” katanya optimis.
Intinya, investor benci dengan ketidakpastian. Itu menyulitkan mereka menghitung risiko. Tapi Rosan menutup pembicaraan dengan nada positif.
“Tapi saya melihatnya optimis investasi kita ini akan terus berjalan baik, meningkat baik dan sesuai dengan target,” pungkasnya. Sebuah harapan yang tentu kita semua inginkan jadi kenyataan.
Artikel Terkait
Tiket Promo Whoosh Ludes, Penumpang Diprediksi Tembus 22 Ribu Saat Libur Isra Mikraj
PNM Ajak Pelajar SLTA Bikin Konten Bermakna, Bukan Cuma Viral
Titik Terang di Ladang Tua: PHR Temukan Cadangan Baru di Blok Rokan
ICP Anjlok ke USD 61,10, Pasar Minyak Dunia Dibayangi Super Glut