BKPM Prediksi Dominasi PMDN Makin Kuat, Didorong Geliat Danantara

- Jumat, 16 Januari 2026 | 11:48 WIB
BKPM Prediksi Dominasi PMDN Makin Kuat, Didorong Geliat Danantara

Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, punya kabar menarik soal tren investasi kita. Menurutnya, gelontoran dana besar-besaran dari Danantara Indonesia bakal mengubah peta. Porsi investasi asing (PMA) diprediksi tergerus di tahun 2025, dan tren ini kemungkinan makin kentara lagi pada 2026.

Angkanya cukup mencengangkan. Sepanjang tahun lalu, realisasi investasi di dalam negeri tembus Rp 1.931,2 triliun. Yang menarik, kontribusi PMDN jauh lebih dominan, menguasai 53,4 persen. Sementara itu, investasi dari luar negeri cuma menyumbang 46,6 persen saja.

Rosan membeberkan detailnya dalam sebuah konferensi pers, Kamis lalu. “Investasi dalam negeri peningkatannya lebih besar daripada luar negeri, kurang lebih 26,6 persen atau Rp 1.030,3 triliun,” ujarnya.

Dia lalu menambahkan, “Dan kami melihat ini akan terus meningkat lebih besar lagi, karena faktor Danantara. Sekarang kita sudah bisa berinvestasi lebih berjalan lagi.”

Memang, PMDN melesat 26,6 persen year-on-year jadi Rp 1.030,3 triliun. Di sisi lain, pertumbuhan PMA cenderung datar, hanya naik tipis 0,1 persen menjadi Rp 900,9 triliun. Perbedaan yang cukup tajam, bukan?

Nah, soal Danantara ini memang patut diperhitungkan. Mereka baru benar-benar aktif berinvestasi mulai Oktober 2025, setelah selesai mengurus struktur dan regulasi sejak diluncurkan delapan bulan sebelumnya.

CEO Danantara sendiri bersuara lantang tentang rencana ke depan.

“Sekarang kita akan berinvestasi lebih banyak lagi di tahun 2026 ini,” tegasnya, menyebut sektor kesehatan, hilirisasi, dan kimia sebagai beberapa fokus. “Saya bisa memastikan bahwa dalam negerinya di tahun 2026 ini akan meningkat lebih tinggi secara year on year.”

Meski begitu, Rosan menekankan bahwa Danantara bukan berarti menutup pintu bagi investor luar. Justru sebaliknya. Lembaga ini diharapkan bisa menarik mitra asing dan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri para investor.

“Kita sama-sama taking calculated risk,” tutur Rosan, “sehingga peningkatannya insyaallah akan terjaga walaupun menurut kami peningkatan year on year di dalam negeri akan lebih meningkat, karena akselerasi yang kita lakukan di Danantara.”

Usai acara, Rosan kembali menegaskan satu hal. Meski Danantara akan jadi pemain besar, peran swasta tidak serta-merta disingkirkan. Dia memberi contoh proyek Waste to Energy yang rencananya mulai digarap Maret mendatang. Di sana, kepemilikan swasta justru akan lebih dominan.


Halaman:

Komentar