MURIANETWORK.COM - Tiga bulan pasca bencana banjir bandang melanda wilayah pesisir Aceh Utara, pemulihan infrastruktur vital dan kehidupan warga masih jauh dari tuntas. Akses jalan terputus, jembatan hancur, dan puluhan keluarga terpaksa bertahan di pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan, menunggu kepastian bantuan dan rehabilitasi dari pemerintah.
Infrastruktur Rusak, Akses Transportasi Terputus
Pemulihan pascabencana di Aceh Utara menghadapi tantangan berat, terutama pada perbaikan infrastruktur dasar. Di Desa Lancang Barat, misalnya, ruas jalan aspal sepanjang 150 meter masih terputus, mengisolasi konektivitas desa. Tidak hanya jalan, tiga jembatan desa yang menjadi penghubung antarkawasan juga dilaporkan hancur diterjang banjir, memperparah kesulitan mobilitas warga dan distribusi bantuan.
Perjuangan Mandiri Warga Membersihkan Rumah
Sementara infrastruktur publik belum tertangani, warga di sejumlah lokasi terpaksa mengambil inisiatif sendiri untuk menyelamatkan rumah mereka. Di Gampong Lunas Sharaya, Kabupaten Pidie Jaya, timbunan lumpur setebal hampir dua meter masih menyelimuti pemukiman. Tanpa dukungan alat berat atau biaya untuk menyewa tenaga kerja, proses pembersihan berjalan sangat lambat dan mengandalkan tenaga manual warga.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran 2026 Macet Parah di Pertigaan Kalijaga Cirebon
Tol Cipali Terapkan Sistem Buka-Tutup Rest Area Antisipasi Lonjakan Kendaraan
Arus Balik Lebaran Padat di Pantura Cirebon, Banyak Motor Membawa Muatan Berlebihan
BGN Bekukan Satu Titik Makan Bergizi Gratis Usai Viral Joget dan Pelanggaran Aturan