MURIANETWORK.COM - Perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia secara resmi berakhir pada Rabu, 4 Februari 2026. Berakhirnya satu-satunya perjanjian utama yang membatasi persenjataan nuklir strategis kedua negara ini menandai babak baru dalam hubungan kedua adidaya nuklir, yang kini tidak lagi terikat secara hukum pada batasan jumlah hulu ledak dan peluncur. Situasi ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pengamat keamanan internasional akan potensi perlombaan senjata baru dan meningkatnya ketidakpastian global.
Latar Belakang dan Tujuan New START
Ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) mulai berlaku setahun kemudian. Inti dari perjanjian bersejarah ini adalah komitmen bersama untuk mengurangi dan membatasi persenjataan nuklir strategis. Secara spesifik, kedua negara sepakat untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan maksimal 1.550 unit untuk masing-masing pihak. Selain itu, perjanjian ini juga memberi batasan ketat pada jumlah peluncur strategis, seperti rudal balistik antarbenua, rudal dari kapal selam, dan pembom berat.
Pilar Verifikasi yang Krusial
Kekuatan New START tidak hanya terletak pada angka-angka batasan, tetapi pada mekanisme verifikasi yang ketat. Perjanjian ini memberikan hak kepada kedua belah pihak untuk melakukan inspeksi timbal balik di lokasi-lokasi militer strategis. Mekanisme saling memeriksa ini selama bertahun-tahun dianggap sebagai fondasi untuk membangun transparansi dan kepercayaan, sekaligus mencegah kesalahpahaman atau salah perhitungan yang berpotensi berbahaya. Praktik inspeksi lapangan ini memberikan jaminan nyata bahwa kedua negara mematuhi komitmen mereka.
Ketegangan Politik dan Akhir Perjanjian
Meski sempat diperpanjang, masa berlaku New START akhirnya berakhir tanpa adanya kesepakatan pengganti. Kondisi ini tidak terlepas dari memburuknya hubungan bilateral AS-Rusia dalam beberapa tahun terakhir, dengan invasi Rusia ke Ukraina menjadi titik puncak ketegangan. Implementasi perjanjian pun mulai tersendat. Rusia mengambil langkah untuk menanggung partisipasinya dalam inspeksi, sementara AS menuding Moskow melanggar ketentuan yang telah disepakati. Saling tuduh dan kebuntuan diplomatik ini pada akhirnya mengantar perjanjian penting itu pada masa berlakunya yang terakhir.
Menyoroti situasi tersebut, seorang analis keamanan internasional yang diwawancarai menyatakan, "Ketiadaan New START menghilangkan transparansi dan prediktabilitas dalam hubungan nuklir kedua negara."
Dampak dan Kekhawatiran ke Depan
Dengan berakhirnya New START, dunia kini menyaksikan sebuah realitas baru yang penuh tantangan. AS dan Rusia, yang bersama-sama menguasai lebih dari 80 persen persenjataan nuklir global, tidak lagi memiliki kerangka hukum yang mengatur batasan dan pengawasan arsenal strategis mereka. Para pakar pengendalian senjata memperingatkan bahwa vakum perjanjian ini dapat memicu dinamika yang tidak stabil, di mana kedua negara mungkin terdorong untuk mengembangkan atau memodernisasi persenjataan nuklir mereka tanpa kendala yang jelas.
Perkembangan terbaru ini juga menjadi alarm bagi komunitas internasional tentang rapuhnya arsitektur pengendalian senjata global. Tanpa upaya diplomatik yang serius untuk merajut kesepakatan baru, dunia dinilai memasuki fase yang lebih berisiko, di mana pengelolaan ancaman nuklir akan bergantung pada kalkulasi yang lebih tidak pasti dan komunikasi yang rentan putus.
Artikel Terkait
Pemuda di Jakut Ditahan Usai Suapi Ibu dan Dua Saudaranya Teh Beracun Tikus
Harley-Davidson Langka di IIMS 2026, Harga Bisa Tembus Rp1 Miliar
Pemerintah Terbitkan PP Tanah Terlantar, Pemegang Izin Wajib Garap Lahan
Presiden Prabowo Hadiri Pengukuhan MUI dan Munajat Nasional di Istiqlal