"Ini belum layak untuk diinvestasikan. Terlalu banyak hal yang harus dibenahi dulu, mulai dari kerangka hukum sampai aspek komersial, sebelum kita bisa bicara soal potensi keuntungan," katanya, mengutip berbagai kendala berbisnis di negara tersebut.
Suara Woods bukan satu-satunya. Sejumlah eksekutif lain juga mengungkapkan keengganan yang sama untuk masuk ke Venezuela, sebuah negara yang masih terpuruk dalam krisis berkepanjangan. Hasilnya? Pertemuan panjang di Gedung Putih pada Jumat itu berakhir tanpa komitmen investasi miliaran dolar yang diharapkan. Sementara itu, detail soal penjualan minyak pertama senilai 500 juta dolar AS itu sendiri masih simpang siur hingga Rabu (14/1).
Meski demikian, pihak Gedung Putih berusaha menampilkan sisi positif. Juru bicaranya, Taylor Rogers, menyatakan bahwa tim Presiden Trump telah memfasilitasi diskusi yang produktif dan berlanjut dengan perusahaan-perusahaan minyak.
"Mereka siap dan bersedia melakukan investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya guna memulihkan infrastruktur minyak Venezuela," klaim Rogers.
Di sisi lain, laporan terpisah dari Reuters pada Rabu (14/1) mengungkap realitas pasar yang berbeda. Minyak mentah Venezuela ternyata ditawarkan ke para pedagang dengan harga diskon, lebih murah dibandingkan dengan produk serupa dari negara lain seperti Kanada. Sebuah tanda bahwa jalan menuju pemulihan ekonomi dan energi Venezuela masih panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Pemerintah Kejar Target Bersih-Bersih Lumpur Sebelum Ramadan Tiba
Rupiah Terperosok Lagi, Investor Asing Serbu Keluar dari SBN
TRIN Lepas Saham Treasury Rp57 Miliar di Tengah Tekanan Harga
OJK Bongkar Delapan Pelanggaran Serius Dana Syariah Indonesia, Lapor ke Bareskrim