Dana 6 Miliar Dolar AS Disiapkan untuk Lahirnya BUMN Tekstil Baru

- Rabu, 14 Januari 2026 | 18:48 WIB
Dana 6 Miliar Dolar AS Disiapkan untuk Lahirnya BUMN Tekstil Baru

Lalu, apa yang mendorong langkah strategis ini? Ternyata, dalam rapat di Hambalang itu, salah satu pembahasan utamanya adalah ancaman tarif resiprokal dari Amerika Serikat. Dari sekian banyak sektor, tekstil dinilai paling rentan dan berisiko tinggi terkena dampaknya. Tak hanya tekstil, sepatu, garmen, dan elektronik juga berada di garis terdepan.

“Nah terhadap industri ini Bapak Presiden minta defensif posisi kita seperti apa,” jelas Airlangga. Ia menambahkan, upaya mencari pasar baru pun digalakkan, meski perjanjian seperti EU-CEPA baru akan efektif sepenuhnya pada 2027.

Di sisi lain, pemerintah sebenarnya sudah punya peta jalan sendiri. Ambisinya besar: mendongkrak nilai ekspor tekstil dari angka 4 miliar dolar AS saat ini menjadi 40 miliar dolar AS dalam kurun satu dekade ke depan.

Tapi, jalan menuju sana tak mulus. Salah satu masalah klasik yang jadi perhatian Airlangga adalah rantai pasok, atau value chain, yang masih terlihat lemah. Titik lemahnya ada di bagian tengah mulai dari produksi benang, kain, hingga proses pewarnaan, pencetakan, dan penyempurnaan.

“Nah ini yang harus kita dorong untuk dibangkitkan kembali,” pungkasnya. Jadi, pembentukan BUMN baru ini bukan sekadar lembaga, melainkan bagian dari upaya memperkuat fondasi industri yang selama ini keropos.


Halaman:

Komentar