Gejolak Timur Tengah dan Serbuan Dana China Picu Rekor Baru Minyak, Timah, hingga Emas

- Rabu, 14 Januari 2026 | 10:36 WIB
Gejolak Timur Tengah dan Serbuan Dana China Picu Rekor Baru Minyak, Timah, hingga Emas

Lonjakan permintaan dari industri elektronik pasca pandemi jadi salah satu pendorong. Logam untuk solder ini kan jadi indikator kinerja sektor komputasi. Nah, sekarang investasi di AI dan pusat data makin masif, dana pun ikut mengalir deras ke sana.

Timah itu likuiditasnya paling rendah di antara enam logam utama di LME. Tapi tahun lalu harganya melambung hampir 40 persen. Sepanjang 2026 ini, kenaikannya sudah lebih dari 25 persen. Gelombang investor China dan dana saham yang bertaruh pada reli komoditas, jelas jadi bahan bakarnya.

Emas Dalam Negeri Juga Tak Mau Ketinggalan

Di pasar domestik, emas Antam kembali catat sejarah. Harganya naik Rp 13.000 jadi Rp 2.665.000 per gram pada Rabu. Harga buyback-nya juga ikut naik ke level Rp 2.513.000 per gram.

Galeri24 pun demikian. Harga jualnya menguat ke Rp 2.676.000 per gram, dengan buyback di Rp 2.509.000. Angka-angka ini mencerminkan satu hal: minat terhadap aset safe-haven masih sangat tinggi di tengah ketidakpastian.

IHSG Sentuh 9.012, Tapi Rupiah Melemah

IHSG buka di zona hijau. Menguat 64 poin dan langsung tembus ke level 9.012. Sayangnya, euforia di pasar saham tak diiringi rupiah. Mata uang kita justru melemah terhadap dolar AS.

Ini rekor baru kedua kalinya IHSG bertengger di level 9.000-an. Sebelumnya, indeks sempat sentuh 9.002 pada Kamis pekan lalu.

Pergerakan bursa Asia hari itu variatif. Nikkei 225 Jepang naik cukup signifikan, 1,48 persen. Hang Seng Hong Kong dan SSE Composite China menguat tipis. Sementara Straits Times Singapura justru terkoreksi.


Halaman:

Komentar