AS Bergabung dengan Israel Serang Iran, Kekuatan Militer Kedua Negara Jomplang

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 18:20 WIB
AS Bergabung dengan Israel Serang Iran, Kekuatan Militer Kedua Negara Jomplang

JAKARTA – Ketegangan yang sudah membara puluhan tahun akhirnya memuncak. Sabtu (28/2/2026) lalu, Amerika Serikat memutuskan untuk bergabung dengan Israel melancarkan serangan ke Iran. Konflik antara Washington dan Tehran memang sudah berlangsung sejak Revolusi Islam 1979. Menariknya, langkah ini diambil meski sekutu-sekutu regional di kawasan terus berupaya mati-matian meredakan situasi. Bahkan, jauh sebelum serangan terjadi, AS sudah terlihat memindahkan kekuatan tempur dalam jumlah besar termasuk kapal induk ke wilayah tersebut.

Nah, kalau bicara soal perang, AS jelas raksasa. Tapi jangan salah, Iran juga punya pengalaman tempur yang tak bisa diremehkan. Lantas, bagaimana sebenarnya perbandingan kekuatan kedua negara ini? Mari kita lihat lebih dekat.

Menurut laporan Global Firepower Rankings 2026, posisi mereka sangat timpang. AS menduduki peringkat pertama militer terkuat di dunia. Sementara itu, Iran harus puas di posisi ke-16.

Angka-angka personelnya pun berbicara sangat jelas. Jumlah prajurit aktif AS sekitar 1,33 juta orang, hampir dua kali lipat dari Iran yang punya sekitar 610.000 personel. Belum lagi cadangannya: AS punya hampir 800 ribu personel cadangan, sedangkan Iran sekitar 350 ribu.

Kesenjangan yang paling mencolok mungkin ada di anggaran. Washington dengan leluasa menggelontorkan dana pertahanan hingga USD895 miliar per tahun. Bandingkan dengan Tehran, yang anggaran militernya hanya berkisar USD15 miliar. Jauh sekali.

Di udara, dominasi AS semakin tak terbantahkan. Mereka punya lebih dari 13.000 pesawat, termasuk jet-jet tempur tercanggih. Iran? Cuma punya sekitar 550 pesawat. Mayoritas armada udara Iran adalah pesawat tua peninggalan era Soviet, seperti MiG dan Sukhoi. Memang ada beberapa unit Chengdu J-10C buatan Tiongkok, plus jet tempur lokal yang dikembangkan dari rangka pesawat Northrop F-5 lawas dari tahun 60-an dan 70-an. Tapi tetap saja, komposisinya sangat jomplang.

Lautan juga jadi wilayah kekuatan AS. Mereka punya sekitar 440 kapal, lengkap dengan 11 kapal induk, 66 kapal selam, dan puluhan kapal perusak. Iran, di sisi lain, hanya memiliki 109 aset angkatan laut. Mereka tak punya kapal induk atau kapal perusak sama sekali. Kekuatan laut Tehran lebih mengandalkan 25 kapal selam dan sejumlah kapal patroli.

Tapi, di medan darat, ceritanya agak berbeda. Meski secara jumlah masih kalah, ini mungkin jadi sektor di mana Iran bisa sedikit bernapas atau setidaknya bertahan lebih lama.

Untuk tank, AS unggul dengan 4.666 unit melawan 2.675 unit milik Iran. Kendaraan lapis baja? AS punya lebih dari 409 ribu, Iran cuma sekitar 76 ribu. Di artileri gerak sendiri, AS juga unggul jauh: 1.521 berbanding 424. Namun, untuk artileri tarik dan proyektor roket, selisihnya tidak terlalu besar. Iran punya 1.803 unit artileri tarik (AS: 1.878) dan 1.550 proyektor roket (AS: 1.731).

Lalu ada rudal. AS punya gudang rudas yang sangat besar, antara 25.000 hingga 30.000 unit dengan berbagai jangkauan. Kekuatan Iran justru terpusat pada sekitar 3.000 rudal balistiknya. Dan yang penting, seluruh stok rudal Iran itu disimpan di dalam negeri, siap digunakan kapan saja.

Kejutan lain datang dari teknologi drone. AS memang punya drone militer yang sangat canggih. Tapi Iran punya senjata yang efektif dan murah: drone bunuh diri atau kamikaze. Mereka mengandalkan Shahed-136 dan Shahed-139 buatan sendiri untuk serangan jarak jauh satu arah.

Kemampuan drone Iran ini bukan omong kosong. Shahed-136 sudah diuji di medan perang Ukraina oleh Rusia. Banyak pengamat militer yang menilai, drone ini adalah salah satu terobosan teknologi paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Murah, mematikan, dan sulit dihadang.

Jadi, meski di atas kertas AS jauh lebih kuat, perang bukan cuma soal angka. Iran punya senjata-senjata spesifik dan pengetahuan medan yang bisa membuat konflik ini berlarut-larut. Serangan Sabtu lalu mungkin baru babak pembuka dari sebuah pertarungan panjang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar