PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) punya rencana baru terkait saham treasurinya. Perusahaan ritel ternama ini berencana mengalihkan sebanyak 203,5 juta lebih saham treasuri kepada pemegang saham utamanya, PT Ramayana Makmursentosa. Rencananya, proses pengalihan saham ini akan dimulai pada 27 Maret 2026 mendatang.
Nah, saham-saham ini bukan barang baru. Mereka berasal dari program buyback yang dilakukan RALS hampir sepuluh tahun silam, tepatnya antara Agustus hingga November 2015. Jadi, ini seperti mengelola kembali aset yang sudah lama mereka pegang.
Lalu, siapa sebenarnya PT Ramayana Makmursentosa? Mereka adalah pemegang saham pengendali RALS yang bisnis utamanya bergerak di sektor properti. Mulai dari real estat, arena bermain, sampai hotel berbintang, semuanya ada di bawah naungan perusahaan ini.
Di sisi lain, performa saham RALS di pasar tampak sedikit melemah. Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin, sahamnya terpangkas 5 poin atau hampir 1 persen, berakhir di level Rp500 per lembar.
Namun begitu, kondisi pasar yang lesu itu ternyata tak sejalan dengan kinerja keuangannya. Menariknya, RALS justru membukukan laba bersih yang tumbuh. Hingga akhir September 2025, laba bersih perseroan tercatat Rp272,97 miliar. Angka itu naik sekitar 8 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp252,74 miliar.
Yang patut dicatat, kenaikan laba ini terjadi di tengah tekanan. Pendapatan perusahaan justru turun 11,4 persen menjadi Rp1,87 triliun, didorong oleh perlambatan di sektor ritel. Tapi, RALS cukup lihai mengelola biaya. Mereka berhasil menekan beban pokok penjualan cukup signifikan, turun 16,3 persen menjadi Rp870,56 miliar. Strategi penghematan inilah yang akhirnya menjaga margin laba kotor mereka tetap sehat.
Dampaknya, laba per saham dasar (EPS) RALS pun ikut terdongkrak, naik dari Rp42,56 menjadi Rp46,02.
Jadi, di balik rencana korporasi dan fluktuasi harga saham, fundamental perusahaan ini masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik.
Artikel Terkait
Harga Tembaga Melonjak ke Level Tertinggi Dua Pekan Dipicu Ketidakpastian Tarif AS dan Pasokan Mengetat
PACK Pastikan Regulasi Ekspor Baru Tak Ganggu Kinerja Perusahaan
IHSG Ditutup Menguat 1,49 Persen ke Level 6.218,86 pada Sesi Pertama Perdagangan
45 Emiten Jadwalkan Pembagian Dividen pada Juni 2026, INTP Tertinggi Rp468 per Saham