Jumlah pengungsi banjir di Demak, Jawa Tengah, terus merangkak naik. Data terbaru dari BNPB per Sabtu menunjukkan angka itu sudah mencapai 2.839 jiwa. Mereka terpaksa meninggalkan rumahnya setelah hujan deras dan luapan Sungai Tuntang membanjiri sejumlah wilayah, bahkan menyebabkan beberapa tanggul jebol.
Menurut Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, warga mengungsi ke berbagai titik. "Lokasi pengungsian tersebar di beberapa tempat," ujarnya.
Ada yang di Masjid Babu Rohim Dukuh Solondoko sekitar 200 jiwa, lalu Masjid Rodhotul Janah Dukuh Solowere yang menampung hingga 500 jiwa. Selain itu, pengungsian juga dibuka di Kantor Kecamatan Guntur untuk 119 jiwa, di Tanggul Gobang (400 jiwa), serta sejumlah balai desa, mushola, madrasah, dan bahkan rumah warga. Pendataan masih terus berlangsung hingga hari ini.
Yang memprihatinkan, beberapa pengungsi dilaporkan jatuh sakit. Kabar baiknya, dinas kesehatan setempat sudah turun tangan memberikan penanganan yang diperlukan.
Dari pantauan cepat di lapangan, dampaknya ternyata cukup luas. Banjir ini melanda 8 desa yang tersebar di 4 kecamatan: Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Penyebab utamanya adalah jebolnya tanggul di beberapa titik.
Di Kecamatan Guntur, tepatnya Desa Trimulyo, ada dua titik yang bobol. Satu di Dukuh Solondoko sepanjang kira-kira 30 meter, satunya lagi di Dukuh Solowere sekitar 10 meter. Tak hanya itu, di Desa Sidoharjo juga ada tanggul yang jebol kurang lebih 15 meter.
Akibatnya, genangan air pun sangat tinggi. Di Desa Trimulyo dan Desa Ploso, ketinggian air mencapai antara 1 hingga 1,5 meter. Parahnya, akses jalan di Desa Trimulyo sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan kecil. Coba bayangkan kesulitan evakuasi dan distribusi bantuan di kondisi seperti itu.
Di sisi lain, limpasan air juga merambah wilayah lain seperti Desa Turitempel dan Sumberejo di Kecamatan Guntur, serta Desa Solowire dan Sarimulyo di Kecamatan Kebonagung. Meski begitu, kondisi di sana dikabarkan masih relatif lebih aman.
Bencana ini langsung menarik perhatian pimpinan tertinggi BNPB. Padahal, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat ini sedang berada di Manado untuk menangani gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo.
Namun begitu, pada Jumat malam (3/4), dia langsung mengeluarkan perintah. Stafnya diperintahkan untuk berkoordinasi intens dengan BPBD Jawa Tengah guna mengidentifikasi kebutuhan darurat di lapangan.
Tak cuma koordinasi, personel BNPB juga langsung dikerahkan ke lokasi bencana. Tugas mereka adalah mendampingi upaya percepatan penanganan darurat banjir yang melanda Kabupaten Demak ini. Upaya race against time pun benar-benar terasa.
Artikel Terkait
Wamendesa: Kritik pada Program Pemerintah Bagian dari Demokrasi, Semua Pihak Diajak Bangun Desa
China Serukan Gencatan Senjata Komprehensif di Kawasan Teluk dalam Pertemuan PBB
Polisi Tanggamus Tangkap Lima Pemburu Rusa Sambar di Kawasan Hutan Konservasi
Vinicius Junior Tegaskan Real Madrid Klub Impian, Tak Buru-buru Perpanjang Kontrak