Dolar AS kembali menunjukkan taringnya di pasar Asia, Rabu pagi. Mata uang itu melesat mendekati level tertinggi dalam sebulan terakhir. Pemicunya? Data inflasi AS yang baru dirilis ternyata sesuai dengan perkiraan kebanyakan analis.
Angka-angka itu, singkatnya, memberi amunisi bagi Federal Reserve untuk bertahan. Bank sentral AS kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan akhir Januari nanti. Hal ini terjadi meski ada desakan dari Gedung Putih yang ditujukan langsung ke Jerome Powell, sang ketua The Fed.
Indeks dolar langsung merespons, naik 0,3 persen ke posisi 99,18. Kenaikan ini seperti usaha untuk menutupi kerugian sehari sebelumnya. Waktu itu, pasar sempat gempar setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menuntut Powell secara pidana. Ancaman itu langsung dibalas dengan gelombang dukungan untuk Powell dari para bankir sentral global dan CEO bank-bank besar Wall Street.
“Kalau intervensi semacam itu sampai terjadi, risikonya besar. Bisa-bisa inflasi makin menggila, biaya utang pemerintah membengkak, dan kegiatan ekonomi jadi lebih bergejolak,”
kata Brian Martin, Kepala Ekonomi G3 di ANZ London, menyoroti situasi yang berpotensi kacau.
Artikel Terkait
Laba Bersih Astra 2025 Turun Tipis 3%, Jasa Keuangan Jadi Penyelamat
Program Pondasi Perbaiki Ratusan Rumah Warga di Kalimantan Tengah
Laba Bersih ITMG Anjlok 49% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram Awal Maret