Gejolak Iran dan Serangan di Laut Hitam Pacu Harga Minyak Melonjak

- Rabu, 14 Januari 2026 | 08:20 WIB
Gejolak Iran dan Serangan di Laut Hitam Pacu Harga Minyak Melonjak

Belum selesai dengan Iran, insiden lain muncul dari Laut Hitam. Empat kapal tanker minyak milik perusahaan Yunani dilaporkan diserang oleh drone tak dikenal. Menurut delapan sumber yang berbicara kepada Reuters, kapal-kapal itu sedang dalam perjalanan ke terminal minyak di lepas pantai Rusia.

Serangan ini makin memperketat sentimen pasokan.

Di sisi lain, analis Rystad Energy, Janiv Shah, melihat ada sedikit peluang. Kekhawatiran kelebihan pasokan untuk sementara mereda. Tapi, ia mengingatkan, tingkat pengolahan kilang di Eropa yang masih tinggi tetap membebani pasar produk turunan seperti gasoil.

Premi minyak Brent terhadap patokan Dubai juga meroket ke level tertinggi sejak Juli. Data LSEG menunjukkan ketegangan di Iran dan Venezuela jadi penyokong utama kenaikan ini.

Analis Barclays bahkan memperkirakan, gejolak di Iran telah menambahkan premi risiko sebesar USD3 hingga USD4 pada setiap barel minyak. Itu angka yang signifikan.

Namun begitu, pasar tetap mencermati kemungkinan lain. Ada angin segar dari Venezuela. Setelah lengsernya Presiden Nicolas Maduro, Trump pekan lalu menyebut Caracas siap menyerahkan minyaknya ke AS hingga 50 juta barel. Meski masih terbentur sanksi Barat, kabar ini berpotensi meredam kenaikan harga.

Yang menarik, dalam perlombaan menguasai aliran minyak Venezuela ini, perusahaan-perusahaan perdagangan minyak global disebut-sebut lebih gesit dan diuntungkan, bahkan mengalahkan raksasa energi AS sekalipun.

Jadi, pasar minyak sekali lagi terjebak dalam tarik ulur antara ketakutan akan gangguan pasokan dan harapan akan tambahan suplai. Untuk saat ini, ketakutanlah yang menang.


Halaman:

Komentar