Harga minyak dunia tiba-tiba melonjak lebih dari dua persen kemarin. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar akan potensi gangguan ekspor dari Iran, yang seolah menutupi kabar baik soal kemungkinan tambahan pasokan dari Venezuela.
Di pasar, Brent crude naik 2,5 persen ke posisi USD65,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), malah lebih ganas lagi, melesat 2,8 persen ke level USD61,15 per barel.
Nah, situasi geopolitik lagi-lagi jadi biang keroknya. Menurut John Evans, analis di PVM Oil Associates, pasar mulai memasukkan premi risiko untuk faktor-faktor politik ini. "Pikiran para trader sekarang dipenuhi oleh berbagai ancaman," katanya.
Ia menyebutkan sederet masalah: mulai dari risiko ekspor Iran yang bisa terhenti, pasokan Venezuela yang bermasalah, perang Rusia-Ukraina, sampai ketertarikan aneh AS untuk membeli Greenland. Semuanya bikin pasar was-was.
Fokus utama memang pada Iran. Negara produsen minyak utama OPEC ini sedang dilanda gelombang demonstrasi besar-besaran. Aksi protes yang dipicu kematian Mahsa Amini itu disebut-sebut telah menewaskan sekitar 2.000 orang. Pemerintah Iran membalas dengan tindakan keras dan ribuan penangkapan.
Respon datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras, bahkan menyiratkan kemungkinan aksi militer. Lebih dari itu, Trump mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada negara mana pun yang berbisnis dengan Tehran.
Ancaman ini langsung menohok China, yang selama ini jadi pembeli terbesar minyak mentah Iran.
Lantas, apa China akan mundur? Bob Yawger, analis Mizuho Securities di New York, punya pendapat. Menurutnya, China kemungkinan besar akan tetap membeli. Tapi, bayangkan jika mereka dan negara lain benar-benar berhenti. Pasokan global bisa menyusut drastis, sekitar 3,3 juta barel per hari hilang dari pasar. Angka yang cukup untuk menggoyang harga.
Trump tampaknya tak berhenti di situ. Melalui media sosial, ia menyemangati para pengunjuk rasa di Iran untuk "mengambil alih institusi-institusi kalian" dan mengatakan bantuan sedang di jalan. Ia juga membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran sampai aksi protes berakhir. Pernyataan-pernyataan panas inilah yang sempat mendorong kenaikan harga minyak lebih dari 3 persen, mencapai level tertinggi dalam tiga bulan.
Artikel Terkait
Pemerintah Kaji Ulang Nasib Paket Ekonomi dan Program Penyerapan Tenaga Kerja
Emas Cetak Rekor, Saham Tambang Melonjak di Tengah Sentimen The Fed
Gejolak Timur Tengah dan Serbuan Dana China Picu Rekor Baru Minyak, Timah, hingga Emas
Dolar AS Menggila di Asia, The Fed Siap Diam Meski Ditekan Trump