Wall Street menutup perdagangan Selasa (13/1/2025) dengan catatan merah. Sentimen pasar ternyata tak cukup kuat untuk bertahan, meski sempat merangkak naik di awal sesi. Rilis data inflasi yang menunjukkan perlambatan, sayangnya, justru memicu aksi ambil untung. Di sisi lain, laporan kuartalan JPMorgan yang kurang menggembirakan ikut menyeret sektor perbankan ke bawah.
Pada penutupan, Dow Jones Industrial Average anjlok 398 poin atau 0,8 persen. Indeks S&P 500 menyusut 0,2 persen, sementara Nasdaq Composite hanya turun tipis 0,1 persen.
Fokus utama tentu saja pada data inflasi AS untuk Desember. Angkanya cukup stabil. Inflasi inti tahunan tercatat 2,6 persen, sedikit lebih rendah dari perkiraan. Sementara inflasi utama tetap di level 2,7 persen, sama seperti bulan sebelumnya. Data ini, ditambah dengan laporan ketenagakerjaan pekan lalu, menjadi bahan pertimbangan krusial bagi The Fed.
Menurut Jarek Sklodowki, Kepala Perdagangan di Financial Markets Online, situasinya belum mendesak bagi bank sentral untuk bertindak cepat.
"Peluang penurunan suku bunga pada Januari masih tipis. Peluang itu lebih terlihat pada Maret," ujarnya.
Ia menambahkan, "Pemulihan Amerika masih sesuai rencana, meskipun penciptaan lapangan kerja agak mengecewakan, jadi The Fed tidak akan terburu-buru. Namun, tren disinflasi yang berlanjut memberi mereka ruang untuk bergerak nanti."
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 0,66%, Sentimen Positif Warnai Perdagangan Awal Sesi
Emas Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram, Rekor Baru Terus Tercipta
Analis BNI Sekuritas Soroti Enam Saham Pilihan Usai Aksi Borong Asing
IHSG Melaju ke 9.012, Rupiah Justru Tergelincir Tipis