Dari kubu Eropa, Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil mengonfirmasi bahwa harga dasar dan kemitraan pasokan sempat mengemuka. Namun begitu, dia menegaskan bahwa pembicaraan masih sangat awal. Banyak masalah belum terselesaikan.
Klingbeil memprediksi isu logam tanah jarang akan menjadi tema utama di bawah kepemimpinan Prancis di G7 tahun ini. Tapi dia juga waspada. Baginya, ini bukan soal membentuk koalisi anti-China. Eropa justru harus bergerak cepat secara mandiri untuk mengembangkan pasokan bahan baku kritisnya sendiri.
"Yang penting bagi saya adalah kita di Eropa tidak boleh hanya diam. Mengeluh atau mengasihani diri tidak akan menyelesaikan masalah. Kita harus aktif," tegas Klingbeil.
Dia menyarankan Uni Eropa perlu lebih banyak pendanaan di tingkat blok, mencontoh dana bahan baku baru Jerman. Selain itu, menurutnya, Eropa harus serius mengejar daur ulang karena potensinya sangat besar untuk memotong ketergantungan.
Sementara itu, dari sudut lain ruangan, Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol punya penekanan berbeda. Dia bilang rantai nilai global harus diperkuat berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing negara. Koo juga menyoroti pentingnya daur ulang mineral untuk menciptakan rantai pasokan yang lebih tangguh.
Koo mendorong kerja sama yang fokus pada proyek nyata antarperusahaan. Dia mengungkapkan, Kanada dan Australia bahkan sudah meminta Korea Selatan untuk berkolaborasi di bidang teknologi.
Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan sama sekali. Pihaknya tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.
Artikel Terkait
Stok Beras Pemerintah Tembus 3,36 Juta Ton, Bapanas: Tak Perlu Impor
Pipa Bawah Laut Balikpapan Hidup, Pasokan Energi Indonesia Timur Diperkuat
Gambir Indonesia Kuasai 80% Pasar Dunia, Tapi Untung Besar Dinikmati India
Januari 2026, Pemerintah Gelar Lelang Sukuk Rp11 Triliun untuk Perdalam Pasar Syariah