Setelah peresmian megaproyek di Balikpapan, perhatian kini beralih ke Dumai. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa PT Pertamina bakal melanjutkan proyek RDMP atau Refinery Development Master Plan di Kilang Dumai, yang masuk dalam Refinery Unit II. Pernyataan ini ia sampaikan usai peresmian RDMP Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin lalu.
Proyek Balikpapan sendiri menelan investasi fantastis, sekitar USD 7,4 miliar atau kalau dirupiahkan kira-kira Rp 123 triliun. Hasilnya? Kilang itu kini jadi yang terbesar di Indonesia. Kapasitas olahnya melonjak dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel. Cukup signifikan.
Nah, untuk rencana ke depan, Bahlil mengaku baru saja menggelar rapat marathon dengan jajaran Pertamina.
"Semalam saya rapat sama teman-teman Pertamina sampai jam 2 subuh. Kita memang selain di sini, kita akan mengembangkan untuk storage dan kapasitas-kapasitas RDMP lain seperti di Dumai,"
Ucapnya saat ditemui di lokasi Kilang Balikpapan, Selasa (13/1).
Menurut Bahlil, skema pengembangan Dumai nantinya akan melibatkan kerja sama dengan pihak swasta. Prinsipnya saling menguntungkan. "Tujuannya apa? Pertamina dapat untung, negara punya ketahanan energi ada, swasta juga bisa mendapat kerja sama yang baik," jelasnya. Dengan kata lain, kolaborasi ini diharapkan bisa mengerek ketahanan energi nasional.
Target Ambisius: Stop Impor Solar
Di sisi lain, Bahlil juga menyodorkan agenda yang cukup berani. Pemerintah, lewat Pertamina, berencana menghentikan impor solar bertahap. Untuk solar dengan cetane number (CN) 48, impor akan dihentikan mulai awal 2026. Sementara untuk solar CN 51, rencananya berakhir di semester kedua tahun yang sama.
Lantas, bagaimana caranya? Bahlil merinci, kebutuhan solar nasional saat ini sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan itu sudah ditopang program biodiesel B40 dan B60, plus tambahan produksi hampir 5 juta kiloliter dari RDMP Balikpapan. Dengan perhitungan itu, impor solar yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter dianggap sudah tertutupi. Malah ada surplus sekitar 1,4 juta kiloliter untuk jenis CN 48. Untuk CN 51, katanya, tinggal sekitar 600 ribu kiloliter lagi yang masih diimpor.
"Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun (kapasitas) agar kita tidak impor (solar lagi),"
Tambahnnya dalam sambutan peresmian.
Rencananya tidak berhenti di solar. Pemerintah menargetkan langkah serupa untuk avtur mulai 2027. Visi jangka panjangnya jelas: Indonesia hanya mengimpor minyak mentah atau crude oil saja. Pengolahan dan pemenuhan kebutuhan bahan bakar jadi murni urusan dalam negeri.
"Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," tutup Bahlil.
Artikel Terkait
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar
BEI Cabut Suspensi Saham UDNG, Perdagangan Kembali dengan Pengawasan Khusus
PJAA Bagikan Dividen Rp41,67 Miliar, Pencairan Mei 2026