Di sisi lain, Bahlil juga menyodorkan agenda yang cukup berani. Pemerintah, lewat Pertamina, berencana menghentikan impor solar bertahap. Untuk solar dengan cetane number (CN) 48, impor akan dihentikan mulai awal 2026. Sementara untuk solar CN 51, rencananya berakhir di semester kedua tahun yang sama.
Lantas, bagaimana caranya? Bahlil merinci, kebutuhan solar nasional saat ini sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan itu sudah ditopang program biodiesel B40 dan B60, plus tambahan produksi hampir 5 juta kiloliter dari RDMP Balikpapan. Dengan perhitungan itu, impor solar yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter dianggap sudah tertutupi. Malah ada surplus sekitar 1,4 juta kiloliter untuk jenis CN 48. Untuk CN 51, katanya, tinggal sekitar 600 ribu kiloliter lagi yang masih diimpor.
Tambahnnya dalam sambutan peresmian.
Rencananya tidak berhenti di solar. Pemerintah menargetkan langkah serupa untuk avtur mulai 2027. Visi jangka panjangnya jelas: Indonesia hanya mengimpor minyak mentah atau crude oil saja. Pengolahan dan pemenuhan kebutuhan bahan bakar jadi murni urusan dalam negeri.
"Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," tutup Bahlil.
Artikel Terkait
Antam Luncurkan Emas Imlek Shio Kuda 2026, Terbatas dan Penuh Filosofi
Telkom Pacu Valuasi, Lepas 30% Saham InfraNexia untuk Cari Singtel Baru
Telkom Gelar Operasi Besar, 60 Anak Perusahaan Bakal Dirombak
Misterius, Djoni Kembali Beraksi: Kuasai 5,09% Saham Multi Garam Utama