“Harga yang mahal itu bukan karena ada yang memahalkan. Tetapi karena biaya angkutan dan distribusinya memang tinggi,”
tuturnya.
Nah, program di Papua ini sebenarnya bagian dari strategi nasional. Pemerintah ingin daerah-daerah yang selama ini bergantung pasokan dari pulau lain bisa lebih mandiri. Contohnya, di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan, program serupa sudah dijalankan dan ditargetkan berjalan pada 2025.
Selama ini, mungkin yang kerap terdengar hanya kawasan Merauke. Padahal, menurut Sudaryono, cakupannya lebih luas dari itu.
“Memang yang terdengar nyaring itu adalah di Merauke. Sebetulnya, kan, Merauke adalah satu dari bagian yang besar, tapi kita juga ada pemenuhan kabupaten-kabupaten, daerah-daerah lain,”
jelasnya.
Soal pendanaan, ada dua skema yang dipakai. Pertama, lewat investasi. Yang kedua, menggunakan anggaran negara khusus untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Skema ganda ini diharapkan bisa mempercepat realisasi program di lapangan.
Artikel Terkait
Pasar Saham AS Terguncang: Ancaman Hukum ke The Fed Picu Awal Pekan Suram
Prabowo Santai Soal Tenggat, Fokus Genjot Eksplorasi Energi
Merdeka Battery Gelontorkan Rp44,37 Miliar untuk Gali Potensi Nikel Konawe
Prabowo Pacu 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 101 Triliun