Analis ANZ yang dipimpin Daniel Hynes memberikan catatan khusus. Mereka menyoroti adanya seruan agar pekerja di industri minyak Iran ikut mogok kerja.
"Situasi ini menempatkan setidaknya 1,9 juta barel minyak per hari dalam risiko gangguan," tulis mereka.
Di sisi lain, ada perkembangan menarik dari Venezuela. Negeri itu diperkirakan bakal segera kembali mengekspor minyak, menyusul penggulingan Presiden Nicolas Maduro. Trump pekan lalu menyebut pemerintah baru di Caracas akan menyerahkan sekitar 50 juta barel minyak yang terkena sanksi kepada AS.
Kabarnya, pernyataan itu langsung memicu persaingan sengit di kalangan perusahaan minyak. Mereka berebut mencari kapal tanker dan menyusun strategi operasi. Tujuannya satu: mengirimkan minyak mentah dengan aman dari kapal dan pelabuhan Venezuela yang kondisinya sudah bobrok. Setidaknya empat sumber yang mengetahui operasi tersebut mengkonfirmasi hiruk-pikuk ini.
Trafigura, salah satu perusahaan komoditas raksasa, bahkan sudah bertemu dengan Gedung Putih pada Jumat lalu. Mereka menyatakan kapal pertama mereka akan mulai memuat barang minggu depan. Jadi, meski ada ketegangan di Timur Tengah, pasar minyak global sepertinya sudah menyiapkan 'penawarnya' dari Amerika Latin.
Artikel Terkait
MNC Asset Management dan SF Sekuritas Gelar IG Live Bahas Investasi Syariah Jelang Ramadan
Astra Siap Bagikan Dividen Final Rp15,8 Triliun pada Pertengahan 2026
Harga Emas Pegadaian Naik Tipis, Galeri24 Tembus Rp3,06 Juta per Gram
GoTo Buka Suara Soal Investasi Google dan Posisi Nadiem Makarim