Revisi data Oktober malah lebih mengejutkan: kehilangan pekerjaan membengkak jadi 173.000 angka tertinggi dalam hampir lima tahun. Lonjakan ini terkait program pensiun dini yang tertunda bagi pegawai federal. Rata-rata kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan terakhir mencapai 22.000, sebuah tanda jelas melemahnya momentum. Para ekonom menyebut fase ini sebagai era “perekrutan rendah, pemecatan rendah”.
Sepanjang 2025, hanya 584.000 lapangan kerja baru yang tercipta. Rata-ratanya cuma sekitar 49.000 per bulan. Bandingkan dengan capaian 2024 yang tembus 2 juta, dengan rata-rata bulanan 168.000. Jelas, ada perlambatan yang signifikan.
“Sepanjang tahun, hambatan kebijakan yang terus-menerus membebani sentimen bisnis dan membatasi perekrutan, mendorong banyak perusahaan untuk tetap berhati-hati dan memprioritaskan pengendalian biaya dan fleksibilitas dalam menanggapi lingkungan operasional yang tidak dapat diprediksi,” ujar Lydia Boussour, ekonom senior di EY-Parthenon.
Kalau dilihat per sektor, gambaran pertumbuhannya tipis sekali. Persentase industri yang mencatat pertumbuhan turun dari 55,6 persen di November menjadi 50,8 persen. Restoran dan bar jadi penyumbang terbesar dengan tambahan 27.000 pekerjaan, diikuti sektor kesehatan yang naik 21.000 terutama di rumah sakit. Tapi, angka ini tetap di bawah rata-rata bulanan tahun 2025 maupun 2024.
Sektor bantuan sosial menambah 17.000 pekerjaan. Pemerintah federal menambah 2.000 posisi pada Desember, tapi secara tahunan justru menyusut 274.000 pekerjaan sejak pemerintahan Trump memangkas jumlah pegawai. Kenaikan moderat juga ada di sektor keuangan dan utilitas.
Di lain pihak, ritel kehilangan 25.000 pekerjaan akibat minimnya rekrutmen saat musim liburan. Manufaktur kembali tertekan, berkurang 8.000 posisi di Desember dan total 68.000 sepanjang tahun lalu. Banyak ekonom mengaitkan penurunan ini dengan kenaikan tarif impor, meski Trump bersikeras kebijakannya diperlukan untuk menghidupkan kembali industri dalam negeri.
Konstruksi juga memangkas 11.000 pekerja. Dampak cuaca dingin ekstrem dinilai terbatas, soalnya sektor seperti restoran justru masih merekrut. Pengurangan serupa terjadi di pertambangan, grosir, transportasi, pergudangan, serta jasa profesional dan bisnis. Pasar tenaga kerja AS, tampaknya, sedang mencari keseimbangan barunya di tengah berbagai tekanan.
Artikel Terkait
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%
Rupiah Menguat ke Rp16.759 Didorong Harap Perundingan AS-Iran
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa