Tokyo, Senin pagi. Pasar global kembali gemetar. Kali ini, sentimen negatif dipicu oleh gagalnya upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Akibatnya, harga minyak mentah AS melonjak liar, bahkan menembus level psikologis yang menakutkan: USD 100 per barel.
Menurut pantauan Channel News Asia, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei melesat sekitar 8 persen ke USD 104,50. Patokan global, Brent, juga ikut naik 7 persen ke kisaran USD 102. Lonjakan ini seperti tamparan keras bagi investor yang baru saja bernapas lega pekan lalu. Saat itu, Donald Trump menyetujui gencatan senjata sementara. Tapi ternyata, harapan itu terlalu cepat. Konflik di lapangan tak kunjung reda; serangan Israel ke Lebanon dan gangguan di Selat Hormuz tetap jadi bara yang menyala.
Blokade dan Eskalasi Baru
Pemicu utama kepanikan kali ini datang dari pengumuman Trump. Ia menyatakan Angkatan Laut AS akan memblokade kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Langkah agresif ini langsung mengancam urat nadi energi dunia. Bayangkan, sekitar sepertiga pasokan minyak dan gas global harus melewati Selat Hormuz yang kini jadi ajang tarik ulur.
Dalam pernyataannya, Trump berkeras tujuannya adalah membuka kembali jalur pelayaran. Tapi, tanpa memberi celah bagi Iran untuk memanfaatkan kontrolnya atas selat tersebut.
Militer AS mengatakan blokade akan efektif mulai Senin sore waktu GMT. Respon Iran? Tak kalah keras. Garda Revolusi mengklaim mereka masih berkuasa penuh di selat itu dan memperingatkan eskalasi lebih lanjut jika AS salah langkah. Suasana jadi makin mencekam.
Pasar Asia Melemah, Dolar Menguat
Dampaknya langsung terasa di seluruh Asia. Bursa saham kompak berwarna merah: Tokyo, Hong Kong, Seoul, semuanya anjlok lebih dari 1 persen. Tekanan serupa menjalar ke Shanghai, Sydney, Singapura, Taipei, hingga Jakarta. Di sisi lain, dolar AS justru menguat dengan signifikan. Indeks dolar meroket ke level tertinggi dalam sepekan, menunjukkan betapa banyak orang berlindung ke aset safe haven di tengah badai ketidakpastian ini.
Mata uang lain pun terperosok. Euro dan poundsterling melemah. Begitu juga dolar Australia dan Selandia Baru yang biasanya diuntungkan oleh komoditas.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Prihatin, 6 Kepala Daerah Ditangkap KPK Sejak Awal 2026
Survei Poltracking: 74,1% Publik Puas dengan Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran
Mendagri Imbau Daerah di Sumut Salurkan Dana Hibah ke Aceh yang Terdampak Bencana
AS Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan dengan Iran Gagal