Frustrasi rakyat pun kian menjadi. Seiring semakin banyak warga Iran yang jatuh miskin, kebencian tumbuh terhadap kelompok yang punya koneksi politik dan tetap terlindungi. Tom Holland, wakil direktur riset global Gavekal, mencatat dalam laporannya bahwa sebagian besar penduduk mulai bersatu menuntut perubahan politik.
Bahkan Grand Bazaar Teheran, yang selama ini dianggap basis konservatif pendukung pemerintah, dilaporkan mogok hampir dua pekan. Itu tanda yang cukup berarti.
Di sisi lain, posisi geopolitik Iran juga terlihat melemah. Tahun lalu, aliansi strategis dengan Suriah lepas setelah Bashar al Assad digulingkan. Sekutu-sekutunya seperti Hizbullah dan Hamas juga terus terdesak di Lebanon dan Gaza.
Ketegangan dengan Israel yang berlangsung dua tahun terakhir memuncak ketika Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak ke fasilitas nuklir utama Iran Juni lalu. Presiden Donald Trump bahkan terus mengancam akan mengambil tindakan lebih lanjut, termasuk dukungan bagi para demonstran. Entah ancaman itu serius atau tidak, yang jelas, pemerintah Iran kini menghadapi risiko konflik yang nyata.
Lalu, ke mana arah perubahan ini? Esfandiary mengajukan empat skenario potensial: pemerintahan runtuh total, reformasi terbatas sekadar untuk meredam keresahan, pergantian pemimpin dengan sistem yang tetap, atau kudeta yang dipimpin IRGC sendiri.
Faktor lain yang tak boleh diabaikan adalah usia Khamenei yang sudah 86 tahun. Jika pemimpin tertinggi itu wafat, itu akan membuka babak suksesi kedua sejak era Shah berakhir.
“Perbedaannya kali ini dibandingkan dengan sebelumnya adalah IRGC jauh lebih dominan,” kata Esfandiary.
“Tidak ada skenario di mana pemimpin tertinggi berikutnya tidak bekerja sama erat dengan IRGC,” imbuhnya.
Situasi ini mungkin belum memberi harapan besar bagi pendukung demokrasi di Iran. Tapi, perubahan apa pun bentuknya, berpotensi membuka pintu bagi pendekatan baru dengan Washington. Itu akan menjadi babak penting dalam sejarah panjang dan berliku hubungan kedua negara.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Ekspor Kelapa Tak Dikenakan Moratorium
Eksportir dan Perbankan Dituntut Lincah Hadapi Gejolak Perdagangan Global
600 Huntara Resmi Diserahkan, Warga Aceh Tamiang Mulai Tempati Hunian Sementara
Rupiah Terperosok Lagi, Sentimen Domestik Jadi Beban Berat