Iran di Ambang Perubahan: Krisis Ekonomi dan Gejolak Sosial Menggerus Fondasi Republik Islam

- Minggu, 11 Januari 2026 | 16:48 WIB
Iran di Ambang Perubahan: Krisis Ekonomi dan Gejolak Sosial Menggerus Fondasi Republik Islam

Gelombang demonstrasi di Iran belum juga reda. Pemicunya klasik, tapi dampaknya luar biasa: biaya hidup melambung, inflasi menggila, dan lapangan kerja semakin sulit ditemukan. Menurut laporan Bloomberg awal Januari lalu, unjuk rasa ini memuncak di Teheran setelah nilai tukar rial terjun bebas ke titik terendah sepanjang sejarah. Sungguh pukulan telak.

Pelemahan mata uang itu langsung terasa di pasar-pasar. Harga kebutuhan pokok meroket, memperburuk krisis ekonomi yang sudah lama mencekik akibat isolasi dan sanksi internasional. Protes pun menjalar ke berbagai daerah. Tak butuh waktu lama, otoritas agama dan militer merespons dengan keras, mengancam akan menghukum berat siapa saja yang mereka capai sebagai "perusuh."

Sebenarnya, bagi Republik Islam Iran, unjuk rasa massal bukan hal baru. Pemerintahan teokratis di sana sudah berkali-kali menghadapi perlawanan publik. Pada 2022, misalnya, perempuan memimpin aksi besar-besaran menyusul kematian tragis seorang perempuan muda. Sementara pada 2009, kerusuhan terparah sejak 1979 meletus setelah Mahmoud Ahmadinejad terpilih kembali.

Selama ini, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) relatif berhasil meredam perbedaan pendapat. Caranya? Seringkali represif dan penuh kekerasan.

Namun begitu, situasi kali ini terasa berbeda. Dina Esfandiary, kepala geoekonomi Timur Tengah Bloomberg Economics, punya prediksi suram. Ia menyebut Republik Islam kemungkinan besar tidak akan bertahan dalam bentuknya saat ini hingga akhir 2026. Pernyataannya itu mengisyaratkan satu hal: perubahan hampir pasti terjadi, meski wujud akhirnya masih samar-samar.

Lantas, apa yang membedakannya? Salah satu faktor utamanya adalah kondisi ekonomi yang kian terpuruk setelah bertahun-tahun dijepit sanksi.

Mata Uang Iran Anjlok

Nilai rial anjlok sekitar 40 persen. Gavekal Research memperkirakan inflasi pangan melonjak hingga 70 persen per tahun. Tekanan ini makin menjadi-jadi karena kekeringan panjang dan pengelolaan air yang buruk, yang menghantam produksi pangan dalam negeri.

Masalahnya tak berhenti di situ. Pemadaman listrik yang berlarut-larut dan pasar tenaga kerja yang rapuh partisipasinya cuma sekitar 41 persen membuat usaha kecil dan menengah tercekik. Banyak yang akhirnya gulung tikar. Menariknya, menurut Esfandiary, perusahaan-perusahaan yang dekat dengan IRGC justru berusaha mengambil alih ruang yang ditinggalkan.


Halaman:

Komentar