Target penerimaan negara dari minyak dan gas bumi tahun ini, rupanya, tak tercapai. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan fakta itu dalam sebuah jumpa pers di kantornya, Kamis (8/1) lalu. Realisasinya cuma sekitar 83,7 persen.
Angkanya? Hanya Rp 105,4 triliun yang berhasil dikumpulkan. Padahal, target yang dicanangkan di APBN jauh lebih tinggi: Rp 125,46 triliun.
“Karena itu pendapatan negara kita untuk di sektor Migas mencapai Rp 105,4 triliun,” ujar Bahlil.
“Dari target Rp 125 triliun, jadi totalnya kurang lebih sekitar 83 persen,” tambahnya.
Lantas, apa penyebabnya? Bahlil menyoroti satu faktor utama: harga minyak dunia yang anjlok. Dalam APBN, pemerintah berasumsi harga minyak Indonesia (ICP) bakal bertengger di level USD 82 per barel. Sayangnya, harapan tinggal harapan. Kenyataannya sepanjang 2025, harga rata-rata global cuma menyentuh USD 68 per barel. Jauh meleset.
Di sisi lain, produksi atau lifting minyak kita sebenarnya cukup bagus. Capaiannya 605,3 ribu barel per hari. Tapi, ya itu tadi, harga yang lesu bikin pendapatan ikut terpuruk.
“Itu berdampak, begitu harganya tidak sampai USD 82, itu berdampak pada pendapatan negara kita,” jelas Bahlil.
Artikel Terkait
Ekonomi Digital Indonesia Tembus USD 100 Miliar, AI Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
IHSG Melonjak 2,02% di Sesi I, Didorong Aksi Beli Luas
BEI Soroti Sembilan Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
IHSG Bangkit Usai Gencatan Senjata, Analis Ingatkan Risiko Masih Membayangi