Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali melemah pada Jumat (10/4/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar bahwa lonjakan produksi bakal mengalahkan permintaan. Padahal, konflik di Timur Tengah masih terus berlangsung.
Menariknya, data resmi justru menunjukkan hal berbeda. Stok persediaan pada Maret lalu malah turun ke titik terendah dalam tujuh bulan terakhir. Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni di bursa Malaysia tercatat turun 1,12 persen, berada di level 4.591 ringgit per ton metrik. Kalau dilihat pergerakan sepekan, pelemahannya sudah sekitar 5 persen. Ini berpotensi jadi penurunan mingguan pertama setelah enam pekan berturut-turut catat kenaikan.
Data dari MPOB mengonfirmasi stok Malaysia yang turun bulan lalu. Namun di sisi lain, produksi justru naik 7,21 persen. Ekspor bahkan melonjak cukup tajam, mencapai 40,69 persen.
Menurut sejumlah saksi, kondisi ini bisa berubah cepat. Paramalingam Supramaniam, Direktur broker Pelindung Bestari, memprediksi bahwa dampak pelemahan permintaan akibat perang dan biaya pengiriman yang membengkak baru akan terlihat jelas dalam data ekspor 1-10 April. Pasalnya, kita sedang memasuki puncak musim produksi antara April hingga Juni.
"Kalau ekspor nggak bisa mengejar kenaikan produksi musiman, ya stok akhir pasti akan naik lagi. Itu bakal bikin harga susah pulih dalam waktu dekat. Idealnya ekspor tetap kuat, tapi melihat situasi sekarang, hal itu sulit," ujarnya.
Perkataannya dikutip dari Reuters. Di hari yang sama, lembaga pemantau kargo diperkirakan akan merilis estimasi ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode tersebut, yang tentunya dinanti-nanti para pelaku pasar.
Pergerakan di pasar komoditas lain cukup beragam. Di Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,61 persen, sementara minyak sawitnya naik 1,12 persen. Sedangkan di Chicago, harga minyak kedelai menguat sangat tipis, hanya 0,01 persen. Seperti biasa, minyak sawit memang punya kecenderungan mengikuti tren minyak nabati pesaingnya karena persaingan ketat di pasar global.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia justru mengalami kenaikan. Pemicunya adalah kekhawatiran baru soal pasokan dari Arab Saudi dan lalu lintas tanker di Selat Hormuz yang masih terbatas. Nah, kenaikan harga minyak mentah ini sebenarnya bisa jadi angin segar untuk CPO, karena membuatnya lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Tapi tampaknya, sentimen positif itu belum cukup kuat untuk mengangkat harganya hari ini.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Perluasan B50, Produsen Filter Lokal Luncurkan Produk Khusus Atasi Tantangan Teknis Biodiesel
Wall Street Mendekati Rekor Tertinggi, Optimisme AI Redam Kekhawatiran Konflik Iran
BSI Maslahat dan MyFundAction Jalin Kerja Sama Optimalkan Distribusi Dana ZIS Berpotensi Rp300 Triliun per Tahun
Laporan Keuangan Gabungan Seluruh BUMN di Bawah Danantara Baru Rampung Akhir Kuartal III 2026