Ancaman gangguan pasokan minyak kini menghantui China. Pemicunya adalah langkah Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan menghentikan pengiriman minyak dari negara itu ke Asia. Akibatnya, salah satu sumber minyak diskon penting bagi Negeri Tirai Bambu itu tiba-tiba terancam putus.
Kilang-kilang independen China sering disebut teapots pun mulai gelisah. Mereka kini melirik sumber lain, terutama Iran, Rusia, dan Irak, untuk menggantikan pasokan utama yang biasa mereka dapat dari Venezuela.
June Goh, seorang analis di Sparta Commodities, menjelaskan situasi yang dihadapi para teapots ini.
"Drama Venezuela paling memukul kilang independen China, karena mereka bisa kehilangan akses ke barel berat yang didiskon," ujarnya.
Namun begitu, dia juga melihat ada secercah harapan. "Karena ada pasokan Rusia dan Iran yang melimpah serta barel Venezuela yang masih di laut, kami tidak memandang teapots perlu menaikkan penawaran untuk barel non-sanksi. Secara ekonomi, langkah seperti itu kemungkinan tidak masuk akal," sambung Goh.
Memang, angka impornya tidak kecil. Menurut data dari situs pelacak komoditas global Kpler, sepanjang 2025 China mengimpor rata-rata 389.000 barel minyak Venezuela per hari. Angka itu setara dengan sekitar 4 persen dari total impor minyak mentah mereka yang datang via laut.
Tapi sejak awal tahun ini, tepatnya 1 Januari 2026, aktivitas pemuatan minyak untuk tujuan Asia di pelabuhan utama Venezuela dilaporkan berhenti total. Situasinya berubah drastis.
Meski demikian, ini bukan berarti krisis akan langsung meledak. Pasokan minyak Venezuela yang sudah berada di atas kapal dan sedang dalam perjalanan ke Asia disebutkan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan China selama sekitar 75 hari ke depan. Analis senior Kpler, Xu Muyu, menilai stok mengambang ini akan membatasi potensi kenaikan harga minyak alternatif, setidaknya untuk jangka pendek.
Lalu, apa langkah selanjutnya? Kilang-kilang teapots yang selama ini bergantung pada Venezuela diperkirakan akan mulai serius beralih ke pasokan dari Rusia dan Iran sekitar Maret atau April nanti. Pilihan lain juga terbuka, seperti memanfaatkan sumber-sumber non-sanksi dari Kanada, Brasil, Irak, hingga Kolombia.
Di pasar, minyak Iranian Heavy muncul sebagai alternatif termurah dengan diskon menarik sekitar 10 dolar AS per barel terhadap patokan ICE Brent. Pasokannya pun melimpah. Sementara itu, minyak dari Timur Tengah seperti Basrah asal Irak juga mulai dilirik oleh para pembeli yang sedang mencari pengganti.
Tapi tampaknya belum ada kepanikan massal. Sebuah sumber perdagangan menyebut, "Pembeli belum mulai mencari alternatif." Mungkin mereka masih menunggu atau menghitung ulang.
Di sisi lain, ada pergerakan menarik dari minyak Kanada. Diskon untuk jenis seperti Cold Lake dan Access Western Blend yang diekspor lewat pipa Trans Mountain melebar jadi sekitar 4 hingga 5 dolar AS per barel untuk pengiriman April ke China. Pelebaran ini terjadi seiring dengan ekspektasi melemahnya permintaan dari pasar AS.
Jadi, meski ancaman itu nyata, pasar minyak global sepertinya punya cukup banyak kartu pengganti. China dan kilang-kilang independennya kini sedang menimbang-nimbang pilihan terbaik di tengah gejolak politik yang tak terduga ini.
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau