Peta kandidat untuk MSCI Standard Cap Index pada Februari 2026 mulai jelas. Kali ini, sorotan utama tertuju pada emiten-emiten besar, terutama yang berada di bawah naungan konglomerat seperti Bakrie dan Barito milik Prajogo Pangestu.
Menurut riset Indo Premier Sekuritas per 10 Desember 2025, kecil kemungkinan ada saham Indonesia yang dihapus dari indeks itu nanti. Justru, peluang masuk lebih terbuka. Dan di antara semua nama, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) disebut punya probabilitas tertinggi.
Alasannya cukup kuat. Kapitalisasi pasar BUMI sudah jauh melampaui batas minimum. Estimasi harga minimalnya sekitar Rp315 per saham, sementara pada 7 Januari 2026 harganya sudah melesat ke level Rp452. Saham ini juga bukan pendatang baru di ekosistem MSCI, karena sudah tercatat di indeks IMI dan Small Cap.
Meski harganya melonjak lebih dari 100% secara bulanan, Indo Premier menilai kenaikan itu masih masuk dalam aturan extreme price increase MSCI. Namun begitu, ada risiko jika harga nekat menembus Rp700 per unit mendekati akhir Januari periode krusial peninjauan indeks.
Di sisi lain, PT Petrosea Tbk (PTRO) juga mencuat sebagai kandidat kuat. Peluangnya bahkan makin terbuka setelah MSCI merevisi porsi free float-nya jadi 30%, dari sebelumnya 25%. Perubahan ini menurunkan batas harga minimum yang dibutuhkan.
"Yang masuk kali ini adalah BUMI dan PTRO," kata pengamat pasar modal Michael Yeoh, Rabu (7/1/2026).
Tapi dari kacamata teknikal, Michael melihat peluang keduanya tak seimbang. "Secara teknikal sendiri PTRO sudah tidak bisa dijustifikasi," tuturnya.
Sebaliknya, BUMI dinilai jauh lebih menarik. "Sementara, untuk BUMI, menarik sekali karena saat ini berada di titik tertinggi saham itu pada 2017, yaitu di Rp515," ujar Michael. Jika level itu tertembus, struktur teknikalnya akan menguat, dengan Rp500 sebagai support baru.
Namun, tidak semua cerita berjalan mulus. Nasib PT MD Entertainment Tbk (FILM) agak terkatung-katung. Meski secara kapitalisasi dan free float sudah memenuhi syarat, status suspensi perdagangannya sejak 8 Desember 2025 bisa menjadi penghalang. FILM kemungkinan baru punya peluang pada review Mei 2026.
Lalu, bagaimana dengan risiko keluar? Indo Premier menilai, pada level harga saat ini, tidak ada saham yang berisiko tinggi di-delete dari MSCI Indonesia Standard Cap. INDF dan CPIN, meski bobotnya kecil, masih relatif aman. INDF baru berisiko jika harganya anjlok 20% lagi, sementara CPIN punya bantalan lebih besar.
Ada juga nama lain yang patut diawasi: IMPC. Jika ada pembaruan free float menjadi setidaknya 15%, saham ini berpeluang masuk di kisaran harga Rp4.100-Rp4.200.
Pandangan berbeda datang dari analis CLSA. Mereka memprediksi akan ada dua saham yang masuk: FILM dan BUMI, dengan estimasi arus dana masuk masing-masing USD72,1 juta dan USD78,7 juta. Tapi mereka juga memperkirakan dua saham keluar, yaitu INDF dan CPIN, dengan dana keluar yang cukup signifikan.
Hasil resmi review ini rencananya baru diumumkan setelah pasar tutup pada 10 Februari 2026. Sampai saat itu, segala prediksi masih sebatas perhitungan di atas kertas. Seperti biasa, keputusan akhir ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Penguatan, Waspadai Potensi Koreksi
AMOR Cairkan Dividen Interim Tahap II Rp28,6 Miliar, Yield 3,51%
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong