Geopolitik sendiri panas. Invasi AS ke Venezuela masih jadi perhatian serius. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyebut Caracas setuju pasok 30-50 juta barel minyak ke AS, setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Belum lagi perselisihan diplomatik Jepang dan China yang memanas pekan ini, menyusul pembatasan ekspor Beijing atas barang-barang berpotensi militer.
Di dalam negeri, sebenarnya ada angin segar. Cuma, rupiah sepertinya belum tergoda. Lembaga seperti IMF, Bank Dunia, dan Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berkisar di angka 5 persen.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa jauh lebih optimis. Dia yakin pertumbuhan bisa mencapai 6 persen. Angka itu, katanya, bukan mimpi belaka.
“Kami sudah siapkan strategi,” ujarnya. Salah satu jurus andalannya adalah akselerasi anggaran. Purbaya ingin belanja fiskal digelontorkan lebih cepat di awal tahun, lalu disinkronkan dengan kebijakan moneter Bank Indonesia. Selain itu, iklim usaha yang mulai membaik diharapkan bisa memulihkan kepercayaan investor, termasuk dari luar negeri. Ini sejalan dengan upaya pemerintah menyelesaikan hambatan investasi atau debottlenecking.
Purbaya yakin, kalau penanganannya konsisten, arus investasi ke Indonesia akan semakin membaik. Pemerintah berkomitmen mengevaluasi aturan-aturan yang dinilai masih mengganggu iklim investasi.
Lantas, bagaimana prospek besok? Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif. Namun, tekanan pelemahan masih mengintai, dengan rentang pergerakan diperkirakan antara Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS. Pasar masih harus bernapas lega.
Artikel Terkait
Di Balik Saham TRIN yang Melonjak 1.261%, Siapa Pengendali Sebenarnya?
Rahayu Saraswati Resmi Kuasai 5% Saham Trinland, Transaksi Rp45,5 Miliar di Bawah Harga Pasar
MNC Energy Klaim Operasional Tambangnya Kebal Aturan Daerah Berkat Jalan Khusus
Pemain Besar Beramai-ramai Jual, Saham Bakrie dan Salim Masih Panaskah?