Reli saham-saham Grup Bakrie dan Salim memang sedang panas-panasnya. Tapi, ada yang menarik di balik kenaikan tajam itu. Sejumlah pemegang saham besar, yang kepemilikannya di atas lima persen, justru terlihat sibuk melepas saham secara bertahap. Mereka seperti memetik keuntungan di tengah pesta kenaikan harga.
Yang jadi sorotan adalah tiga emiten: PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Ketiganya memang sedang jaya-jayanya. Sentimen positif berhamburan, mulai dari harga emas dunia yang melambung, rencana ekspansi, hingga desas-desus masuk dalam indeks global MSCI. Saham-saham ini pun meroket.
Ambil contoh BUMI. Dalam setahun terakhir, harganya melambung lebih dari 300 persen! Hingga Jumat (9/1) lalu, sahamnya bertengger di Rp476, level tertinggi sejak 2017. BRMS dan DEWA tak kalah ganas. BRMS yang sudah resmi masuk MSCI, melesat 205 persen setahun. Sementara DEWA, dengan kisah pemulihan kinerjanya, bahkan naik fantastis 659 persen dalam periode yang sama.
Lalu, kenapa pemegang saham besar justru jual?
Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, hal ini sebenarnya wajar saja. "Ini lumrah mengingat harga saham yang mengalami kenaikan tinggi," ujarnya, Jumat lalu.
Ia menambahkan, setelah kenaikan masif seperti itu, aksi ambil untung atau profit taking seringkali tak terhindarkan. "Dengan kenaikan yang masif, aksi profit taking memang sering terjadi oleh investor," katanya.
Yeoh lalu membeberkan pandangannya untuk masing-masing saham. Untuk BRMS, ia bilang masih ada ruang naik, asal bisa tembus level kunci. "Support untuk BRMS adalah 1.190. Resistance di 1.335," paparnya.
"Melewati angka ini, akan membuat peluang BRMS ke 1.500," imbuh Yeoh.
Artikel Terkait
EMAS Kirim Perdana Dore Emas ke Antam, Sinyal Kesiapan Produksi Komersial
Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Capai 300.000 Kasus pada 2024
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%