BUMI, di sisi lain, sedang mendekati titik penting. "BUMI akan menyentuh titik krusial di weekly resistance di 500. Waspada akan aksi taking profit di area itu," ia mengingatkan.
Adapun DEWA, pergerakannya dinilai sudah sangat agresif. "Terjadi parabolic curve, sehingga secara teknikal tidak bisa dijustifikasi lagi," tuturnya.
Nah, siapa saja yang sedang aktif jual?
Data mencatat, CGS International Sekuritas perlahan mengurangi kepemilikan di BRMS sejak akhir Desember. Aksi jualnya bertahap, dari puluhan ribu hingga ratusan ribu saham, yang membuat porsinya turun tipis ke 5,64 persen.
Di DEWA, Andhesti Tungkas Pratama terlihat sangat aktif. Pada 31 Desember lalu, ia melepas 400 juta saham sekaligus! Kepemilikannya langsung turun drastis dari 9,35% jadi 8,37%. Meski sempat beli lagi di hari-hari berikutnya, trennya tetap menurun hingga ke kisaran 8,16 persen.
Tak ketinggalan, pemain besar di BUMI, Chengdong Investment Corp, juga rajin jual. Terbaru, pada 7 Januari, mereka melepas 500 juta saham. Ini bukan kali pertama. Sejak awal Desember, Chengdong konsisten memangkas kepemilikannya di perusahaan tambang batu bara itu.
Pola seperti ini biasanya dibaca pasar sebagai langkah penyesuaian portofolio atau sekadar realisasi keuntungan belaka. Setelah rally panjang dan kuat, wajar jika beberapa investor memilih untuk cash in. Pertanyaannya sekarang, apakah ini awal dari koreksi, atau hanya jeda sebentar sebelum melanjutkan reli?
Semua kembali ke tangan investor.
Artikel Terkait
Ramadan 2026 Diprediksi Picu Gelombang Pinjol, OJK Waspadai Dominasi Kredit Konsumtif
Pemulihan SPBU Aceh Tembus 97 Persen Pascabencana
Di Balik Kenaikan IHSG, Sepuluh Saham Ini Justru Terjun Bebas
BEI Dibanjiri Emisi Baru, IHSG Nyaris Sentuh 9.000 di Awal 2026