Kisah 'Kuburan Kereta' dan Sang 'Kereta Bongkok'
Balai Yasa ini punya cerita kelam. Dulu, ia sempat dikenal sebagai 'kuburan kereta'.
Mursid mengiyakan. Di masa lampau, ada lokasi khusus yang dijadikan tempat penampungan bangkai kereta, misalnya gerbong sisa kecelakaan maut seperti di Bintaro atau Ratu Jaya.
"Sekarang sudah tidak ada lagi," katanya singkat.
Meski 'kuburan' itu telah hilang, masih ada gerbong-gerbong tua berusia di atas 30 tahun yang terparkir. Unit-unit yang sudah afkir dan menunggu keputusan dari kantor pusat untuk dipindahkan.
Di sisi lain, tempat ini juga menyimpan bukti sejarah yang masih terjaga. Salah satunya adalah 'Kereta Bongkok'.
Kereta buatan tahun 1916 ini usianya nyaris seabad lebih. Fungsinya zaman dulu unik: sebagai kereta derek bantuan khusus saat terjadi kecelakaan atau anjlok.
"Jadi ini dipakai untuk mengangkat kereta yang anjlok," jelas Mursid tentang asal usul namanya. "Dari sanalah sebutan kereta bongkok melekat."
Dari pabrik lokomotif, menjadi pusat perawatan, menyimpan memori kelam sebagai kuburan, hingga menjadi penjaga artefak sejarah seperti Kereta Bongkok. Perjalanan panjang Balai Yasa Manggarai seolah merekam sendiri evolusi perkeretaapian Indonesia dalam diam.
Artikel Terkait
Suara Kekecewaan 2025: Ketika KaburAjaDulu Menjadi Pilihan Rasional
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi