Argumennya ternyata bukan tanpa alasan. Ia melihat realitas global yang kian tak menentu. Ambil contoh konflik antara Thailand dan Kamboja. Indonesia selama ini mengimpor beras dari kedua negara itu. Bayangkan saja kalau kita tak punya cadangan sendiri.
"Sekarang, Thailand sama Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan: amankah kita bergantung impor dari negara yang konflik?" ujarnya mempertanyakan.
Masih ada lagi. India, salah satu pemasok pangan kita, juga kerap memanas hubungannya dengan Pakistan. Belum lagi pelajaran berharga dari pandemi COVID-19 dulu. Saat itu, banyak negara langsung menutup keran ekspor. Uang ada, tapi barang tidak datang.
"Kita tidak bisa impor walaupun kita punya uang. Dan impor berarti devisa kita keluar. Jadi Saudara, pangan dan energi harus kita mandiri. Harus kita mandiri," jelas Prabowo, mengulangi poinnya untuk penekanan.
Dengan kata lain, dinamika dunia yang serba tak pasti ini justru mengukuhkan pandangannya. Strategi transformasi menuju kemandirian pangan dan energi bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keharusan yang mendesak. Sebuah langkah untuk benar-benar merdeka.
Artikel Terkait
Suara Kekecewaan 2025: Ketika KaburAjaDulu Menjadi Pilihan Rasional
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi