Wall Street kembali menunjukkan taringnya di awal pekan. Bursa saham AS ditutup menguat pada Senin kemarin, dengan reli kuat dari sektor keuangan dan energi yang mendorong indeks utama naik. Sentimen ini tak lepas dari berita besar yang mengguncang: penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan AS.
Dow Jones melonjak hampir 600 poin, tepatnya 595 poin, hingga mendekati level psikologis 50.000. Angka itu hampir saja tersentuh, berhenti di 49.977. Sementara itu, S&P 500 bertambah 0,6% ke posisi 6.902. Nasdaq Composite, barometer saham teknologi, juga ikut naik 0,7% ke level 23.395.
Ketegangan geopolitik jelas jadi katalis. Maduro, yang ditangkap dalam operasi militer akhir pekan, kini menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di New York. Dari Air Force One, Presiden Donald Trump dengan tegas menyatakan AS akan mengelola Venezuela sampai ada pemimpin baru terpilih.
“Washington akan mengelola Venezuela hingga pemimpin baru terpilih,” tegas Trump.
Langkah berikutnya pun langsung diambil. Trump memberi lampu hijau bagi raksasa minyak AS seperti Chevron dan ExxonMobil untuk masuk dan mengembangkan infrastruktur minyak Venezuela. Ini langkah strategis mengingat negeri itu punya cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak dunia yang sempat lesu bangkit dan menguat lebih dari 1%. Investor mulai memprediksi adanya potensi tambahan pasokan global ke depan, meski infrastruktur Venezuela saat ini masih jeblok akibat usia tua dan sanksi bertahun-tahun.
Seorang pengamat pasar di Wall Street, seperti dikutip dari Investing, Selasa (6/1/2026), memberi catatan hati-hati. “Kami perkirakan pemulihan harga minyak masih akan berlangsung panjang. Sepanjang 2025 saja harganya sudah terjun bebas 18%, kinerja terburuk dalam lima tahun terakhir karena banjir pasokan dan permintaan yang lembek,” ujarnya.
Namun begitu, saham-saham energi langsung merespons positif di awal perdagangan. Chevron, ExxonMobil, dan ConocoPhillips terpantau menguat, menopang sektor energi secara keseluruhan.
Analis ING punya pandangan lain. Mereka melihat perdebatan kini bergeser ke implikasi perubahan rezim yang didorong AS di Venezuela. Ironisnya, ketidakpastian ini malah membuat dolar AS makin diminati sebagai safe haven.
Di sisi lain, nada Trump tetap keras. Ia bahkan mengancam serangan militer lanjutan jika pemerintahan sementara di Caracas tidak kooperatif. Ancaman itu tak hanya untuk Venezuela. Kolombia juga disorot karena dicurigai terlibat perdagangan narkoba. Kuba, menurutnya, “siap untuk jatuh”. Dan ambisinya atas Greenland demi alasan keamanan nasional AS kembali ditegaskan.
Jadi, pasar saham meroket didorong energi dan geopolitik. Tapi di balik kenaikan itu, ketegangan justru makin memanas. Wall Street mungkin senang hari ini, tapi dunia tampaknya menahan napas menunggu perkembangan berikutnya.
Artikel Terkait
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Penguatan, Waspadai Potensi Koreksi
AMOR Cairkan Dividen Interim Tahap II Rp28,6 Miliar, Yield 3,51%
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong
ASLC Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Andalkan Mobil Bekas Jelang Mudik 2026